Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Boni Hargens: Lebaran Momentum Memaafkan di Tahun Politik

Rabu 13 Jun 2018 13:06 WIB

Red: Ratna Puspita

Boni Hargens

Boni Hargens

Foto: ROL/Fian Firatmaja
Boni mengatakan lebaran di tahun politik ini berlangsung ketika umat coba dibelah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens mengatakan Hari Raya Idulfitri 1439 Hijriah merupakan momentum yang tepat untuk saling memaafkan sesama anak bangsa pada tahun politik saat ini. Ia mengatakan Lebaran tahun ini adalah momentum religius yang mahal nilainya. 

Lebaran di tahun politik ini berlangsung ketika umat coba dibelah oleh kepentingan dan permainan politik. “Akan tetapi, kita tetap yakin, Islam sebagai bagian inheren dari ke-Indonesia-an kita akan tetap menjadi agama yang menyatukan dan mendamaikan dalam satu melting pot bernama Indonesia," kata dia di Jakarta, Rabu (13/6).

Menurut dia, pesan moral dari bulan suci Ramadhan tidak hanya saling memaafkan. Namun, bagaimana masyarakat dan seluruh kekuatan nasional juga mau memaafkan kelompok politik yang memainkan isu SARAsebagai modal.

Juga, kelompok yang menjadikan kekacauan sebagai momentum untuk meraih kekuasaan. "Mereka pun bagian dari kita sebagai keluarga besar NKRI," ujarnya.

Dia menyatakan, memberikan maaf yang tulus agar ada pertobatan dan rekonsiliasi nasional menuju Pilpres April 2019. Substansinya jelas, ia mengatakan, Indonesia tidak dibangun untuk periode pemilu 5 tahun, tetapi selamanya. 

"Maka, baiklah komitmen jiwa dan raga kita arahkan dan kerahkan untuk keberlangsungan Indonesia untuk selama-lamanya," ujar dia.

Boni menjelaskan terhitung sejak 2016, dinamika politik di Tanah Air ditandai berbagai goncangan yang cukup melelahkan dan meresahkan. Politik identitas menjadi arus utama ketika oposisi politik kehilangan akal sehat untuk mengevaluasi dan mendelegitimasi Pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Menurutnya, dikotomi yang kejam atas dasar isu SARA tidak hanya mengganggu jalan pemerintahan. Dikotomi itu juga mengancam masa depan ke-Indonesia-an yang sudah dibangun para pendiri republik dengan darah dan keringat.

Dia menambahkan, Pancasila diganggu oleh kehadiran dan serangan ideologi. Padahal, Pancasila merupakan pondasi yang merekatkan keberagaman dan falsafah yang menyatukan masa lalu dan masa depan sebagai negara-bangsa. 

Memang, dia mengatakan, masyarakat ini lelah dan terluka dengan serangan-serangan teroris dan kemarahan kelompok radikal. Dia menyebutkan kelompok radikal berteriak di jalan dan memadati dunia maya dengan hasutan kebencian dan fitnah.

"Alhamdulillah, sampai hari ini dan sampai kapan pun, bangsa ini masih dan akan tetap kuat" ujarnya.

Boni mengapresiasi setinggi-tingginya kerja keras Badan Intelijen Negara (BIN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang telah dan selalu berkomitmen menjaga keamanan masyarakat, bangsa, dan negara. Bahkan dalam momen menjelang Lebaran ini, ketika kita sibuk mengatur jadwal berlibur, TNI dan Polri justru sibuk bekerja keras untuk menjaga masyarakat dan bangsa ini.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA