Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Sabtu, 20 Safar 1441 / 19 Oktober 2019

Ketua DPR Minta Politik Identitas Ditinggalkan

Kamis 16 Agu 2018 15:30 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Muhammad Hafil

Preisden Joko Widodo (kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) dan Ketua DPR Bambang Soesatyo (kanan) mengikuti Sidang Bersama DPR-DPD di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8).

Preisden Joko Widodo (kiri) bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla (tengah) dan Ketua DPR Bambang Soesatyo (kanan) mengikuti Sidang Bersama DPR-DPD di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (16/8).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Diperlukan kearifan dalam memanfaatkan media sosial.

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA--Ketua DPR Bambang Soesatyo mengajak semua pihak tidak membiarkan berkembangnya politik identitas dalam Pilpres dan Pemilu 2019 mendatang. Sebab menurut Bambang, politik identitas termasuk hal yang dapat menyulut permusuhan serta mengancam persatuan dan keutuhan bangsa.

"Kita tidak boleh membiarkan berkembangnya politik identitas yang dapat menyulut permusuhan serta mengancam persatuan dan keutuhan bangsa," ujar Bambang dalam pidato di Sidang Tahunan DPR di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (16/8).

Ia mengatakan adanya perbedaan haluan politik terkadang membuat saling hujat dan saling serang. Bahkan tokoh agama acap kali dihujat, presiden dan lembaga-lembaga negara sebagai simbol kedaulatan negara dilecehkan.

Sehingga kritik berubah menjadi pembunuhan karakter yang kejam. Bamsoet melanjutkan pondasi bangsa yang berlandaskan asas kebinekaan juga bisa goyah dengan isu SARA.

Apalagi era saat ini media sosial sangat populer dan tumbuh sangat dinamis, sehingga sulit untuk dikendalikan. Karena itu, demi menjaga keteduhan politik, diperlukan kearifan dalam memanfaatkan media sosial, terutama terkait dengan isu-isu politik yang berbau SARA dan menyulut maraknya politik identitas.

"Akibatnya, kebhinnekaan menjadi bahaya. Semua orang cenderung menyatakan diri merasa paling benar. Kerukunan umat beragama justru dianggap tabu. Akal sehat dianggap nista. Karena itu, sudah saatnya, kita harus berani mengatakan secara tegas, Selamat Tinggal, Politik Identitas," ujar Bambang.

Karenanya ia pun meminta agar seluruh elemen bangsa melaksanakan pesta demokrasi secara damai dan gembira dan menjadikan Pemilu 2019 sebagai ajang adu program untuk mempercepat laju pembangunan.

Selain itu, ia mengajak agar menjadikan Pemilu sebagai wahana yang mencerahkan semua anak bangsa.

"Berbeda tidak berarti berseteru, bersaing tidak berarti bermusuhan. Karena lawan politik bukanlah musuh yang harus dilenyapkan. Kita harus menempatkan persaingan sebagai seleksi demokrasi untuk menemukan pemimpin yang amanah dan dicintai oleh rakyat," kata Bamsoet, sapaan akrabnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA