Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Saturday, 17 Zulqaidah 1440 / 20 July 2019

Dukungan Tokoh Agama Belum Tentu Tambah Massa Jokowi-Ma'ruf

Ahad 02 Sep 2018 18:27 WIB

Rep: Bayu Adji Prihammanda/ Red: Muhammad Hafil

Pengamat politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti saat berbicara kepada wartawan di Jakarta, Ahad (2/9).

Pengamat politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti saat berbicara kepada wartawan di Jakarta, Ahad (2/9).

Foto: Republika/Bayu Adji P
Tokoh agama bisa meredam isu agama yang menyerang Jokowi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti menilai, banyaknya tokoh merapat kubu Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma'ruf Amin belum pasti menambah dukungan massa. Menurut dia, dukungan banyak tokoh hanya menambah kepercayaan diri pasangan itu.

"Massa saya tidak terlalu yakin. Tapi secara moril kehadiran tokoh-tokoh ini membuat kepercaryaan diri kubu jokowi lebih kuat. Ada efek psikologisnya," kata kepada Republika.co.id, di Jakarta, Ahad (2/9).

Meski begitu, ia mengatakan, sedikit banyak merapatnya nama-nama seperti Deddy Mizwar, Tuan Guru Bajang, atau ustaz Yusuf Mansur, akan memengaruhi dukungan masyarakat ke kubu Jokowi-Ma'ruf. Apalagi, lanjut Ray, dua nama terakhir juga dikenal sebagai pemuka agama.

"Bentuk dukungan massa perlu dicek lebih lanjut. Tapi TGB di NTB juga tinggi pengaruhnya," ujar dia.

Ihwal wacana masuknya ustaz Yusuf Mansur ke Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf, menurut dia, pengaruhnya akan sangat tinggi pada masyarakat. Paling tidak, kata dia, ustaz Yusuf Mansur dapat meredam isu agama yang menyerang Jokowi.

Namun, ia menambahkan, jika ustaz Yusuf Mansur benar-benar masuk dalam tim, hal itu juga mengindikasikan bahwa Jokowi bermain politik identitas. Meski tak digunakan untuk menyerang pasangan lain, tapi identitas Islam digunakan untuk politik praktis.

"Seperti Persaudaraan Alumni 212, mempergunakan agama untuk jangka pendek," kata dia.

Menurut dia, hal itu merupakan praktik yang tidak sehat dalam berdemokrasi. Padahal, yang seharusnya digunakan adalah menggunakan nilai-nilai Islam dalam berpolitik, bukan justru memanfaatkan Islam sebagai alat mencapai kekuasaan.

"Tanpa melihat agama, selama shiddiq, amanah, fathonah, dan tabligh, dia itu Islam. Namun pilihan Jokowi untuk merangkul ulama juga untuk menahan serangan itu. Kalau dia tidak memilih maruf, akan lebih midah menyerangnya," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA