Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Kampanye Pilpres, KIK Hindari Istilah Pertarungan

Kamis 13 Sep 2018 14:40 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Ratna Puspita

Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq usai menjalani pemanggilan Bawaslu,  di Kantor Bawaslu,  Thamrin,  Jakarta Pusat,  Senin (12/3). Pihak Bawaslu melalukan klarifikasi kepada Perindo terkait iklan kampanye partai tersebut yang dianggap mencuri start.

Sekjen Partai Perindo Ahmad Rofiq usai menjalani pemanggilan Bawaslu, di Kantor Bawaslu, Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (12/3). Pihak Bawaslu melalukan klarifikasi kepada Perindo terkait iklan kampanye partai tersebut yang dianggap mencuri start.

Foto: Republika/Dian Erika Nugraheny
KIK ingin mengajak masyarakat terlibat dalam pesta demokrasi ini penuh suka cita.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tim Kampanye Nasional (TKN) Koalisi Indonesia Kerja (KIK) akan menghindari istilah pertarungan selama kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang dimulai pada 23 September mendatang. Hal tersebut untuk mengajak masyarakat terlibat dalam pesta demokrasi ini penuh suka cita.

Sektretaris Jenderal Partai Perindo Ahmad Rofiq mengatakan keputusan itu sesuai permintaan  Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir, dalam rapat kordinasi perdana, Rabu (12/9) kemarin. Ia mengatakan, Koalisi Indonesia Kerja (KIK) tidak melihat pemilu sebagai bagian dari persaingan atau pertempuran.

Dia mengatakan Pilpres 2019 harus menjadi pesta bagi masyarakat dan menyatukan harapan-harapan mereka. Ia menambahkan rakyat harus menjadi bagian yang menyukseskan pesta tersebut sehingga mereka tidak terbebani dengan masalah politik.

Rofiq juga mengajak semua pihak, termasuk kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, untuk tidak menggunakan istilah pertarungan. “Semua harus menganggap ini bagian dari pada positif sehingga aura atau energi yang dikeluarkan itu positif, bukan hoaks, bukan fitnah, bukan kampanye hitam," kata Rofiq di Jakarta, Kamis (13/9).

Baca Juga:

Dia mengatakan, hoaks berpotensi memecah belah berbagai pihak. Selain itu, hoaks dapat dimanfaatkan pihak ketiga yang ingin membuat suasana menjadi ricuh dan pesta demokrasi gagal. 

“Ada pihak-pihak lain yang ingin memanfaatkan dan mengambil alih sebuah proses demokrasi yang selama ini kita pupuk sedemikian baik," katanya.

Rofiq juga mengimbau masyarakat agar tidak terpengaruh hoaks. Rofiq berharap, para pengguna media sosial untuk tidak menyebarkan hoaks. 

Dia melanjutkan, warga justru harus melawan hoaks yang bisa memecah belah bangsa dan merugikan bangsa. 

Usai memimpin rapat konsolidasi perdana kemarin, Erick mengatakan, Koalisi Indonesia Kerja (KIK) akan menghindari narasi pertarungan selama kampanye. Sebab, ia mengatakan, pertarungan hanya akan menimbulkan luka dan menjadikan rakyat sebagai korban.

Nah, itu yang kami tidak mau. Makanya, kami konsisten selalu berbicara dalam konsolidasi bersahat dan bermartabat serta tidak lari ke tempat yang lain," katanya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA