Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Pemilih Milenial Bisa Ubah Pilihan Capres karena Dua Hal Ini

Ahad 16 Sep 2018 02:16 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Andri Saubani

Generasi xenial disebut juga sebagai micro generation. Mereka terlalu muda jika dikatakan generasi X namun juga terlampau tua bila disebut milenial.

Generasi xenial disebut juga sebagai micro generation. Mereka terlalu muda jika dikatakan generasi X namun juga terlampau tua bila disebut milenial.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Suara pemilih milenial dinilai akan menentukan pada Pilpres 2019.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar branding milenial, Yuswohady mengatakan, pemilih milenial bisa mengubah pilihan calon presiden (capres) pada menit-menit akhir jelang Pilpres 2019, karena pengaruh nilai emosional dan nilai rasional. Suara pemilih milenial pun dinilai akan menentukan pada Pilpres 2019.

"Dua nilai ini menentukan. Kalau pemilih milenial melihat capres secara rasional oke dari sisi program misalnya terkait lapangan kerja tapi pada menit terakhir si calon menusuk hati pemilih maka mereka (pemilih milenial) bisa mengubah pilihannya," kata Yuswohady dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (15/9).

Sehingga, ia meminta kandidat capres dan calon wakil presiden (cawapres) mesti menggabungkan antara nilai rasional dan nilai emosional. Dari sisi emosional, kata dia, capres atau cawapres bisa membentuk kesan muda seperti aksi stuntman Joko Widodo dalam acara pembukaan Asian Games 2018.

Sementara, dari sisi rasional, Yuswohady mencontohkan, bagaimana capres dan cawapres mampu memberikan ide untuk memajukan industri kreatif di Indonesia. Ia pun menyebut program One Kecamatan, One Center of Entrepreneurship (OK OCE) milik bakal cawapres Sandiaga Uno sebagai salah satu citra rasional bagi pemilih milenial.

"Karena pemilih milenial kan kritis, pintar. Jadi kalau melihat pencitraan, mereka tahu," katanya.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfarabie meminta partai politik (parpol) membuat isu membahas apa yang dibutuhkan generasi milenial jika ingin merebut suara mereka. Apalagi generasi milenial apatis terhadap politik.

"Parpol harus membahas isu apa yang dibutuhkan generasi milenial," katanya, dalam diskusi yang sama.

Menurutnya hanya Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memiliki pencitraan mewakili anak muda tetapi itupun tidak cukup mewakili seluruh pemilih muda yang jumlahnya sekitar 40 persen dari pemilih total. Selebihnya, kata dia, parpol hanya berhasil mendefinisikan apa itu generasi milenial tetapi tidak mengetahui cara untuk merangkul suara generasi milenial seperti apa.

Ia menyayangkan belum ada parpol yang jelas muncul dengan isu milenial yang menjadi concern partai. Persoalan ditambah dengan karakteristik daftar pemilih tetap (DPT) milenial yang mayoritas apatis.

Adjie menyebutkan, survei menunjukkan pemilih milenial yang aktif secara politik, menonton talkshow dan membaca berita politik hanya dibawah 10 persen. "Artinya mereka (generasi milenial) tidak terlalu tertarik membahas berita-berita politik," katanya.

Jadi, kata dia, memang harus ada isu yang relevan untuk pemilih milenial yang cuek terhadap polik itu. Ia menyebutkan salah satu isu penting untuk pemilih muda adalah lapangan kerja.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA