Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

JK Nilai Para Capres-Cawapres Melancarkan Kampanye Negatif

Selasa 13 Nov 2018 19:00 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Andri Saubani

Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Foto: Antara/Basri Marzuki
Kampanye negatif, yakni kampanye saling mengungkapkan kesalahan lawan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menilai, wajar jika kandidat capres-cawapres saling melontarkan pernyataan yang kontrovesial. Salah satunya, yakni pernyataan Joko Widodo (Jokowi) soal kiasan "politik genderuwo" hingga "politikus sontoloyo".

Jusuf Kalla mengatakan, sikap saling melontarkan pernyataan kontroversial tersebut termasuk dalam kampanye negatif. Menurut Jusuf Kalla, kampanye negatif, yakni kampanye yang saling mengungkapkan kesalahan lawan.

"Yang saling itu kampanye negatif namanya, you salah kita ungkap kesalahan karena itu jangan berbuat salah, salah bicara, salah tindak, salah apa macam-macam," ujar Jusuf Kalla di kantornya, Selasa (13/11).

Jusuf Kalla menjelaskan, dalam setiap kontestasi pemilu atau pilpres selalu ada pernyataan kontroversial yang disampaikan kandidat. Adapun dalam pemilu biasanya terdapat tiga macam kampanye, yakni kampanye positif, kampanye negatif, dan kampanye hitam. Meski ada pernyataan kontroversial dari masing-masing kandidat, Jusuf Kalla memastikan kondisi negara masih kondusif.

"Ada konflik nggak? Nggak ada kan? ya kondusif artinya," kata Jusuf Kalla.

Adapun, menurut Jusuf Kalla, pernyataan kontroversial masing-masing kandidat saat ini merupakan momentum timses untuk saling berdebat. Sedangkan, debat capres-cawapres dan pemaparan program-program akan dilakukan sekitar dua sampai tiga bulan sebelum Pemilu 2019.

"Yang berdebat di TV itu masih timses, belum calonnya sendiri, calonnya nanti kan dua sampai tiga bulan sebelumnya baru bicara program di situ," ujar Jusuf Kalla.

Satu bulan setengah sejak masa kampanye di mulai pada 23 Oktober 2018 lalu, tak banyak adu argumentasi terkait gagasan substantif yang disuguhkan kedua pasangan capres-cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Masyarakat justru lebih banyak disuguhkan adu kritik pernyataan tak terkait substantif visi, misi, maupun program dari kedua pasangan calon.

Ruang publik sejauh ini disajikan oleh istilah dan jargon, seperti 'Indonesia bubar 2030', '99 persen rakyat hidup pas-pasan', 'tampang Boyolali', 'tempe setipis ATM', atau 'chicken rice Singapura' dari kubu pasangan nomor 02. Tak mau kalah dari penatang, kubu pejawat, Joko Widodo juga melempar istilah yang berujung kontrovesi, mulai dari 'politikus sontoloyo' dan terbaru, yakni 'politik genderuwo'.

Pengamat komunikasi politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Kuskridho Ambardi menilai, gaya komunikasi yang ditampilkan kedua pasangan calon dan tim suksesnya sebagian dibentuk oleh situasi yang terpolarisasi atau terbagi dalam dua bagian. Khususnya, terbelahnya di tingkat para pendukung yang saling tak menyukai satu sama lain.

"Gaya berkomunikasi para capres-cawapres dan timsesnya sebagian dibentuk oleh situasi yang terpolar. Terutama di tingkat para pendukungnya yang saling tak menyukai satu sama lain. Hasilnya, sering kali mereka saling ejek, bukan saling berdebat beradu argumen," ujar Kuskridho.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA