Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Buka Rakornas KAHMI, JK Bicara Fenomena Pergeseran Demokrasi

Sabtu 24 Nov 2018 16:08 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Esthi Maharani

Jusuf Kalla

Jusuf Kalla

Foto: AP/Alastair Grant
Demokrasi merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan bangsa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI -- Wakil Presiden RI Jusuf Kalla membuka Rakornas I Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) di Abadi Suite and Tower Hotel, Jambi. Dalam pidatonya, Jusuf Kalla berbicara tentang demokrasi. Jusuf Kalla mengatakan, demokrasi telah menjadi salah satu sistem kenegaraan di dunia. Demokrasi merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan bangsa.

"Jadi demokrasi itu bukan tujuan, tapi suatu cara untuk mencapai tujuan," ujar Jusuf Kalla, Sabtu (24/11).

Jusuf Kalla mengatakan, ada beberapa negara yang mengganggap demokrasi adalah tujuan. Dia mencontohkan, Amerika Serikat (AS) mengebom Irak dan Libya karena alasan demokrasi. Oleh karena itu, demokrasi apabila disalahgunakan maka bisa menjadi berbahaya.

Ditinjau dari sejarah dunia, demokrasi selalu menjadi bagian dari hak pertentangan berbeda diantara semua sistem yang ada. Jusuf Kalla mengatakan, setelah Perang Dunia I yang bertentangan adalah paham demokrasi liberal dengan paham fasis. Kemudian terjadi Perang Dunia II dengan dua kubu yang berbeda itu. Pertentangan juga berlanjut dalam Perang Dingin, yang ditandai dengan bubarnya Uni Soviet.

Jusuf Kalla mengatakan, demokrasi pada dewasa ini mulai mengalami pergeseran. Amerika Serikat yang mengklaim sebagai negara demokrasi, masih berkampanye dengan cara diskriminatif. Kemudian, negara-negara yang tidak demokratis justru menggunakan nama Demokrasi, seperti Republik Demokrasi Korea dan Republik Demokrasi Kamboja.

"Maka terjadilah suatu paham-paham yang putar balik pada masa lalu, kalau masa lalu negara yang demokratis cenderung ekonominya terbuka, negara yang tidak demokratis dan sosialis atau komunis, ekonominya tertutup, proteksionis. Sekarang terbalik, AS ingin proteksionis, Cina yang sosialis-komunis itu ingin ekonomi terbuka," kata Jusuf Kalla.

Di tengah pergeseran demokrasi tersebut, Jusuf Kalla berpesan bahaa Indonesia harus menjalankan sistem demokrasi yang berpihak kepada rakyat sehingga dapat tercipta kemakmuran dan keadilan.

Tak hanya itu, demokrasi yang berpihak kepada rakyat juga diharapkan tercermin dalam pemilihan umum (pemilu). Jusuf Kalla mengatakan, cermin demokrasi dalam pemilu yakni menghormati pihak yang menang maupun kalah sehingga tidak terjadi perpecahan.

"Kita adalah demokrasi yang menang tentu menghormati yang kalah, yang kalah simpati kepada yang menang, baru kita bisa menjalankan negara yang baik. Kalau sistemnya the winner takes all sama dengan AS, maka akan terpecah dua," ujar Jusuf Kalla.




BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA