Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Ketidakjelasan Pengisi Kursi Wagub DKI Bisa Ganggu Koalisi

Kamis 10 Jan 2019 03:21 WIB

Rep: Amri Amrullah/ Red: Nur Aini

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil

Foto: ROL/Havid Al Vizki
Politisi PKS, Nasir Djamil meminta sosok pengganti Sandiaga segera diputuskan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketidakjelasan siapa kader PKS mengisi kursi Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta menggantikan Sandiaga Uno menjadi batu sandungan koalisi PKS dan Gerindra di pilpres mendatang. Politisi PKS, Nasir Djamil menilai ketidakjelasan siapa kader PKS yang akan duduk di kursi Wagub ini menyangkut posisi dan gengsi.

Karena itu, PKS berharap keputusan pengganti Sandiaga di kursi Wagub DKI segera diputuskan setelah diserahkan ke PKS. "Agar tidak menjadi bola panas, khususnya jelang jelang Pileg dan Pilpres," katanya kepada wartawan, Kamis, (9/1).

Nasir berharap keputusan pengganti Sandiaga yang harusnya diserahkan ke PKS tidak berlarut-larut karena akan mengganggu hubungan koalisi. Ia khawatir bila ini terus dibiarkan dan tidak sesuai kesepakatan akan menimbulkan kekecewaan bagi kader-kader PKS.

Nasir mengaku tidak mengetahui hasil akhir kesepakatan siapa yang akhirnya akan menggantikan Sandiaga. "Mungkin keputusan siapa yang jadi Wagub pascapilpres," kata Nasir. Namun, ia berharap dua pimpinan tertinggi Gerindra dan PKS akan menjaga komitmen awal sejak koalisi Anies-Sandi terwujud.

Sebelumnya, Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta M Taufik mengatakan walaupun posisi Wagub DKI Jakarta secara politis jadi milik PKS, PKS harus mengikuti mekanisme yang menjadi syarat, yakni ada fit and proper test di DPRD DKI Jakarta. PKS sudah mengusulkan Ahmad Syaikhu dan Agung Yulianto sebagai calon Wagub DKI untuk menggantikan Sandiaga Uno. Namun, beberapa Fraksi dari partai pendukung mantan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menolak nama-nama tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA