Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Saturday, 20 Safar 1441 / 19 October 2019

Deklarasi Antihoaks Dibacakan, Jokowi: Agar tak Ada Konflik

Jumat 08 Feb 2019 22:40 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Muhammad Hafil

Warga memadati kawasan Alun-Alun Cianjur di Kabupaten Cianjur yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo Jumat (8/2) siang

Warga memadati kawasan Alun-Alun Cianjur di Kabupaten Cianjur yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo Jumat (8/2) siang

Foto: Republika/Riga Nurul Iman
Masyarakat diharapkan menjaga persatuan, kerukunan, dan persaudaraan.

REPUBLIKA.CO.ID, CIANJUR -- Muslimat NU di pondok pesantren Al-Ittihad, Cianjur membacakan deklarasi antihoaks, anti fitnah, dan anti ghibah di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Presiden pun mengapresiasi deklarasi yang dibacakan itu.

"Saya sangat hargai deklarasi-deklarasi muslimat NU di mana-mana mengenai hoaks fitnah dan ghibah," ujar Jokowi di ponpes Al-Ittihad, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (8/2).

Menurut dia, deklarasi antihoaks ini dapat mencegah terjadinya perpecahan dan konflik antarmasyarakat. Ia mengatakan, informasi hoaks dan fitnah yang selama ini disebarkan tak terlepas dari penyelenggaraan pemilu.

Sebab, selama ini perbedaan pilihan politik memicu konflik antarmasyarakat. Masyarakat menjadi tak saling sapa dan tak hidup rukun.

"Supaya kita tidak didera perpecahan dan konflik. Kalau sudah perang, sangat sulit sekali. Jangan sampai terjadi di negara kita. Kembali lagi karena pilihan bupati, pilihan walikota, dimulai dari situ," jelas dia.

Ia juga berharap, setelah deklarasi antihoaks dibacakan, masyarakat pun harus bersama-sama menjaga persatuan, kerukunan, dan persaudaraan.

"Oleh sebab itu, penting bagi kita semua untuk merawat, menjaga persatuan, kerukunan, persaudaraan, ukhuwah islamiah, ukhuwah wathaniah kita," kata Jokowi.

Deklarasi antihoaks ini sebelumnya juga pernah dibacakan oleh muslimat NU di Gelora Bung Karno, Senayan, Ahad (27/1).

Deklarasi anti-hoaks, fitnah dan ghibah dibacakan saat perayaan Hari Lahir Muslimat NU ke-73 dan dipimpin oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama Khofifah Indar Parawansa.

Deklarasi tersebut berisi empat poin. Yakni, poin pertama menekankan pentingnya penolakan pada hoaks, fitnah, dan ghibah yang dapat memicu perpecahan dan perselisihan bangsa.

Kedua, menegaskan anggota Muslimat tidak akan membuat dan menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, fitnah, dan ghibah.

Ketiga, pentingnya membudayakan menyaring berita sebelum menyebar informasi yang diterima. Dan poin terakhir mengingatkan tentang perlunya berpikir positif untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan bangsa.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA