Sunday, 10 Jumadil Awwal 1444 / 04 December 2022

NU Tolak Penegakan Khilafah

Kamis 28 Feb 2019 14:46 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

Munas NU. Pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) yang dihadiri para ulama NU, Presiden RI Joko Widodo dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, di Pompes Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2).

Munas NU. Pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) yang dihadiri para ulama NU, Presiden RI Joko Widodo dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj, di Pompes Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Rabu (27/2).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Tak ada kewajiban menegakkan khilafah dalam satu kekuasaan politik.

REPUBLIKA.CO.ID,BANJAR -- Katib ‘Aam PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf mengatakan organisasi trans nasional yang berupaya menegakan khilafah tak ubahnya komunis yang menginginkan rezim komunis berlaku untuk seluruh dunia. Keduanya, menurut Yahya hanya menghasilkan kekacauan dan kemelut di seluruh dunia.

Karenanya, jelas dia, NU menolak ideologi transnasional yang mengusung tegaknya khilafah universal. “Harus ditolak (khilafah universal) dan kembali kepada asal dari nilai-nilai agama yaitu rahmah dan kemanusiaan, akhlakul karimah,” kata Yahya usai memimpin sidang batsul masail Maudu'iyah dalam Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU di Kota Banjar, Jawa Barat pada Kamis (28/2). 

Baca Juga

Kiai Yahya mengatakan tak ada kewajiban mengupayakan khilafah universal di bawah satu kekuasaan politik. Ia mengatakan umat Islam di seluruh dunia harus menerima negara dan bangsa, menjadi warga negara yang berdaulat dan merdeka.

Karena itu pula, jelas dia NU terus berupaya untuk menawarkan sikap moral NU kepada dunia yakni ukhuwah Islamiah, ukhuwah wathoniah dan ukhuwah bassyariah. 

“Kita menghadapi kebutuhan dunia untuk mendapat masukan, kita ingin menawarkan porsi moral yang sudah ditetapkan NU kepada dunia, dan itu berarti kita harus mempunyai argumen untuk menjelaskannya,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, peserta Munas dan Konbes NU masih menggelar batsul masail. Rencanya malam nanti hasil dari masalah-masalah yang dibahas akan diumumkan. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA