Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Dilaporkan ke Bawaslu, Kiai Ma'ruf: Apa Salah Saya?

Jumat 22 Mar 2019 10:51 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Andi Nur Aminah

Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, KH. Ma'ruf  Amin saat menghadiri acara Silaturrahmi bersama Jaringan Kiai-Santri  Nasional (JKSN) dan Aliansi Masyarakat Kalimantan Timur di Balikpapan,  Kalimatan Timur, Kamis (21/3) pagi.

Calon Wakil Presiden (Cawapres) nomor urut 01, KH. Ma'ruf Amin saat menghadiri acara Silaturrahmi bersama Jaringan Kiai-Santri Nasional (JKSN) dan Aliansi Masyarakat Kalimantan Timur di Balikpapan, Kalimatan Timur, Kamis (21/3) pagi.

Foto: Republika/Muhyiddin
Laporan itu dinilai tak tepat karena yang dibicarakan para ulama di forum tertutup.

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA -- Calon Wakil Presiden nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin menanggapi pihak yang melaporkannya di Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Kiai Ma'ruf justru bertanya balik tentang apa kesalahannya, karena merasa tidak melanggar apapun. "Apa salah saya?," ujar Kiai Ma'ruf saat ditanya wartawan di sela-sela silaturrahim politiknya ke Samarinda, Kalimantan Selatan, Jumat (22/3).

Kiai Ma'ruf menilai laporan tersebut tidak tepat lantaran apa yang dibicarakan para ulama di forum tersebut dilakukan secara tertutup dan membicarakan tentang masa depan. "Menurut saya, ya itu tidak tepat kalau dianggap melanggar kan bukan di tempat terbuka, belum mengajak orang," ucap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini.

Kiai Ma'ruf pun mengaku tak habis pikir jika pertemuan antar kiai itu dipersoalkan. Apalagi, jika dirinya dilaporkan lantaran dianggap melakukan pembiaran terhadap hoaks. Karena, Kiai Ma'ruf sendiri menganggap tidak ada pembohongan di pertemuan tersebut. "Apa salah saya? Kalau kenapa saya diam saja, karena menurut saya itu bukan sesuatu hal yang melanggar," kata Kiai Ma'ruf.

Menurut dia, dalam pertemuan seperti itu merupakan hal yang wajar antar kiai dan ulama untuk bertukar pandangan. Menurut dia, dalam forum itu sesama ulama bukan saling menceramahi, tapi sama-sama mengingatkan terhadap hal yang akan terjadi di masa mendatang.

"Itu pertemuan di internal. Di dalam rumah kan itu bukan di luar, pertemuannya sesama kiai. Nah kiai ketika masing-masing menyambut itu karena saling memberikan //warning. Jangan sampai terjadi ini," tegasnya.

Kiai Ma'ruf mengatakan, dalam forum itu hanya mengungkapkan kekhawatiran kiai dan ulama tentang potensi penggerusan Islam rahmatan lil alamin, paham Aswaja, dan Islam moderat. Sementara, paham keislaman itu dianggap paling cocok oleh NU untuk mempersatukan umat.

Menurut dia, para ulama hanya mengingatkan agar jangan sampai soal politik merusak paham-paham Aswaja. Jangan sampai paham Islam yang intoleran mendominasi atau bahkan dijadikan komoditas politik. "Jadi semacam antisipasi, jadi bukan menceritakan kebohongan tapi sesuatu yang ke depan," ujar Kiai Ma'ruf.

Sebelumnya, Kiai Ma'ruf dilaporkan anggota Advokat Peduli Pemilu (APP) Wahid Hasyim ke Bawaslu, Kamis (22/3) kemaron. Mustasyar PBNU itu dituding melakukan pembiaran terhadap seseorang di forum itu yang dianggap menyebarkan hoaks bahwa tak akan ada lagi acara dzikir di Istana jika Jokowi kalah.

"Intinya mengatakan bahwa kalau capres 01 itu kalah, maka tidak akan ada lagi zikir dan tahlil akan berkumandang di Istana," kata kuasa hukum Wahid, Papang Sapari, di Bawaslu, Jakarta Pusat.

Papang menuding Kiai Ma'ruf tidak anti-hoaks karena tidak menegur penceramah tersebut. Ketua MUI itu dilaporkan dengan Pasal 280 ayat 1 huruf c dan d juncto Pasal 521 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA