Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Jokowi Sindir Sandi yang Kerap Bawa Nama Ibu-Ibu

Ahad 14 Apr 2019 04:00 WIB

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Teguh Firmansyah

 Pasangan capres nomor urut 01 Joko Widodo berjabat tangan dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelmum mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Pasangan capres nomor urut 01 Joko Widodo berjabat tangan dengan capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebelmum mengikuti debat kelima Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019).

Foto: Republika/Prayogi
Jokowi tegaskan pembangunan ekonomi tak bisa dilakukan secara instan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Calon presiden nomor urut satu Joko Widodo (Jokowi) menegaskan, pengelolaan ekonomi makro tidak bisa dilakukan dengan instan.

Hal tersebut dia ungkapkan untuk menangapi pernyataan calon wakil presiden nomor urut dua Sandiaga Salahuddin Uno yang menganggap saat ini masih ada impor energi, hingga banyak warga merasa listrik dan sembako masih mahal.

Baca Juga

Jokowi mengatakan, ia sudah mengupayakan untuk mengembangkan biofuel di sektor energi. “Saya kir biofuel itu sudah itu sudah kita lakukan. Mulai dengan yang namanya B20 yang sebentar lagi akan kita naikkan lagi menjadi B50, yang akan sebentar lagi nanti juga akan kita naikkan menjadi B100,” kata Jokowi dalam debat terakhir capres dan cawapres di Hotel Sultan, Sabtu (13/4).

 Sehingga, kata dia, impor minyak saat ini sudah mulai berkurang dengan cara-cara tersebut. Hanya saja, Jokowi mengatakan hal tersebut merupakan ekonomi makro, bukan ekonomi mikro yang sekali bangun langsung bisa terasa dampaknya.

Untuk itu, Jokowi menuturkan tidak bisa hanya mendengarkan satu atau dua orang keluhan dari warga terkait upaya menangani ekonomi makro yang belum berhasil.

“Jadi nggak bisa juga seperti disampaikan ibu ini dan ibu ini. Mengelola ekonomi makro agregat produksi itu bukan hanya orang-orang seperti itu dijadikan patokan,” jelas Jokowi.

 

Dia menegaskan, dalam ekonomi makro, harus dimenegerti secara garis besar menggunakan angka-angka yang didasarkan dari data dan survei. Tidak mungkin kita melakukan kebijakan hanya berdasarkan satu, dua atau tiga orang yang menyampaikan keluhan.

Sebelumnya, Sandiaga sempat menyebutkan ibu-ibu yang ia temui mengeluhkan mahalnya sembako dan listrik. Hal tersebut menurut Sandiaga mencerminkan belum berhasilnya pemerintahan Jokowi menangani persoalan itu.

“Ibu Mia di Tegal mengeluh bahwa biaya tagihan listriknya tadinya Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu sekarang sudah di atas Rp 1 juta. Ini yang harus kita selesaikan bersama Prabowo-Sandi. Kita akan turunkan harga listrik kita akan pastikan harga-harga sembako murah tanpa usaha penerbitan kartu kartu baru,” ungkap Sandiaga.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA