Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

Rabu, 23 Syawwal 1440 / 26 Juni 2019

Polri Imbau Hasil Quick Count tak Jadi Acuan

Rabu 17 Apr 2019 21:53 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Muhammad Hafil

Apel Pengamanan Pemilu. Prajurit TNI dan personel Polri melaksanakan Apel Patroli Skala Besar TNI-Polri di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad (14/4/2019).

Apel Pengamanan Pemilu. Prajurit TNI dan personel Polri melaksanakan Apel Patroli Skala Besar TNI-Polri di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad (14/4/2019).

Foto: Republika/ Wihdan
Polri meminta masyarakat tak melakukan konvoi merayakan 'kemenangan' sementara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepolisian RI tetap meminta agar masyarakat tak menjadikan hasil hitung cepat Pilpres 2019 lembaga-lembaga survei sebagai acuan. Juru Bicara Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, agar masyarakat tetap menunggu hasil penghitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk menentukan pemenang presiden dan wakil presiden 2019-2024.

Baca Juga

“Kami (Kepolisian) mengimbau agar masyarakat menunggu hasil resmi penghitungan KPU,” kata Dedi kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (17/4). Menengok aturan, hasil hitung resmi KPU baru akan pungkas selama kurang lebih 35 hari setelah pencoblosan, Rabu (17/4). Artinya, KPU baru akan mengumumkan hasil resmi penghitungan Pilpres 2019, pada 22 Mei mendatang.

Dedi melanjutkan, saat ini memang luapan gembira ditampilkan para pendukung dua kontestan. Di kubu 01 pasangan pejawat Joko Widodo (Jokowi) dan KH Maruf Amin unggul di sejumlah hasil quick count atau hitung cepat lembaga-lembaga survei. Di kubu 02, pasangan penantang Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno, pun mengklaim kemenangan lewat real count internal.

Kata Dedi, agar luapan gembira tersebut tetap berujung tertib. Sembari menunggu hasil penghitungan resmi KPU. “Kami meminta kepada masyrakat agar bersabar. Tidak boleh mendahului hasil resmi,” ujar Dedi. Ia menegaskan, saat ini Polri masih menerapkan kondisi siaga memastikan seluruh tahapan Pemilu 2019 pungkas. Sebab itu, kata dia, selama tahapan tersebut berjalan, agar masyarakat di seluruh Indonesia tak melakukan aksi-aksi pengumpulan massa dan konvoi-konvoi merayakan kemenangan sementara.

Menurut Polri, aksi-aksi tersebut rentan menjadi ajang provokasi. Polri di seluruh Indonesia tak segan akan membubarkan aksi-aksi tersebut. “Kami menghimbau tidak melakukan pengumpulan-pengumpulan massa, mobilisasi massa, atau mengadakan kegiatan konvoi kemenangan sementara yang akan memicu konflik,” sambung Dedi. Ia mengatakan, himbauan tersebut, bukan cuma berlaku dalam persoalan pilpres. Karena Pileg 2019 yang berbarengan, juga rentan provokasi.

Selain menghimbau situasi kondusif setelah pilpres, Mabes Polri pun berterimakasih kepada seluruh masyarakat Indonesia yang berhasil melewati pesta demokrasi Rabu (17/4) dengan situasi yang kondusif. Kata Dedi, hasil pemantaun Kepolisian di seluruh wilayah pemilihan, tak ada kendala yang tak teratasi. Di sejumlah daerah, kata dia, memang sempat terjadi kendala dalam penyelenggaraan.

Tetapi, pemilu tetap berjalan. Pun kata Dedi, situasi keamanan dan ketertiban terkendali. “Secara umum kita lihat hari ini, dari Aceh sampai Papua situasi keamanan dan ketertiban masyarakat berjalan cukup kondusif,”sambung Dedi.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA