Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

PSI Akui Kekalahannya di Pemilu 2019

Kamis 18 Apr 2019 00:47 WIB

Red: Indira Rezkisari

Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie berpidato saat kampanye dalam #Festival11 Yogyakarta di Jogja Expo Centre (JEC), Bantul, DI Yogyakarta, Senin (11/2/2019).

Ketua umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie berpidato saat kampanye dalam #Festival11 Yogyakarta di Jogja Expo Centre (JEC), Bantul, DI Yogyakarta, Senin (11/2/2019).

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Dalam penghitungan cepat suara PSI di pemilu 2019 tak mencapai 4 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengakui kekalahan di Pemilu 2019. Berdasarkan hasil hitung cepat atau quick count, PSI mendapatkan dua persen suara. Artinya PSI gagal memenuhi parliamentary threshold atau kuota empat persen untuk masuk ke DPR.

"Menurut quick count, PSI hanya mendapat suara dua persen. Dengan perolehan itu PSI tidak akan berada di Senayan lima tahun ke depan," kata Ketua Umum PSI, Grace Natalie, dalam siaran persnya, di Jakarta, Rabu (17/4) malam.

Menurut dia, meski menunggu real count sebagai standar konstitusional, namun pihaknya sudah bisa mengambil kesimpulan mengenai hasil pemilu kali ini. Grace mengaku seluruh kader dan simpatisan partai sudah berjuang dengan keras dan dirinya pun tak akan menyalahkan siapa-siapa. Bahkan, kader, pengurus PSI, caleg telah bekerja keras siang dan malam meyakinkan rakyat.

"Tapi inilah keputusan rakyat melalui mekanisme demokrasi yang harus kami terima dan hormati. Tidak ada penyesalan. Sama sekali tidak ada penyesalan atas setiap tetes keringat dan air mata yang jatuh selama membangun partai ini. Kami, anak-anak muda PSI telah terlibat dalam sebuah perjuangan yang bagi kami sangat luar biasa," kata Grace.

Ia pun mengucapkan terima kasih karena di tengah apatisme politik, PSI berhasil membuktikan bahwa orang mau berkontribusi. Yakni menyumbang uang, membantu mencetak alat peraga kampanye, menyumbang tenaga, pikiran, bahkan meninggalkan pekerjaan mereka demi berjuang bersama PSI.

"Kepada mereka semua, kami mengucapkan terima kasih. Saya meminta kawan-kawan pengurus dan caleg tidak putus asa dan tetap menjaga suara kita. Meskipun kandas melewati parliamentary threshold di level nasional, tapi saya yakin bahwa akan banyak kawan-kawan yang berpeluang mendapatkan kursi di DPRD provinsi dan kabupaten kota. Ini adalah modal politik yang harus kita rawat," papar Grace.

Grace menambahkan, perolehan PSI sebesar dua persen atau sekitar 3 juta suara adalah suara rakyat yang harus diperhitungkan. "Meskipun PSI tidak masuk parlemen suara kalian akan tetap kami perjuangkan. Kami akan bekerjasama dengan civil society dan teman-teman media untuk memperjuangkan aspirasi kalian," katanya.

Ia meyakinkan bahwa tidak ada suara terbuang dan tak ada suara yang sia-sia. Setiap suara dukungan kepada PSI akan dicatat dan diperhitungkan sebagai pernyataan tentang keberanian. Suara rakyat yang menginginkan perbaikan parlemen dan partai politik.

Grace juga meyakini pasangan calon presiden Jokowi-Ma'ruf telah memenangkan pemilihan presiden dengan selisih sekitar sepuluh persen dari Prabowo-Sandi. "Kami sebagai partai pendukung Pak Jokowi merasa gembira atas hasil ini. Kami siap menjadi mitra Pak Jokowi menjalankan program-program kerakyatan yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat," ucapnya.




Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA