Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Friday, 19 Safar 1441 / 18 October 2019

Jokowi Kalah di Jabar, Indikator: Iman Politik Masih Loyal

Kamis 18 Apr 2019 17:23 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Andri Saubani

Sejumlah warga menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara (TPS) bertemakan Kampoeng Pemilu Nusantara di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/4).

Sejumlah warga menggunakan hak pilihnya di tempat pemungutan suara (TPS) bertemakan Kampoeng Pemilu Nusantara di Depok, Jawa Barat, Rabu (17/4).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Prabowo-Sandi unggul di Jabar dengan 59,89 persen suara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indikator Politik Indonesia (IPI) merilis hasil quick count dan exit poll Pilpres 2019 pada Rabu, (17/4) pukul 17.00 WIB. Secara khusus, paslon Joko Widodo-Maruf Amin mengalami kekalahan di wilayah Jawa Barat (40,11 persen). Paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno unggul dengan angka 59,89 persen.

Baca Juga

Associate Researcher IPI, Akhmad Khoirul Umam mengatakan hasil temuan tersebut sejalan dengan survei IPI pada Februari 2018. Kategori undecided dan swing voters tak berhasil mempengaruhi suara secara signifikan di Jabar.

"Iman politiknya masih loyal di Jabar, misal berasumsi undecided dan swing voters masih bisa dipengaruhi tapi ternyata enggak bisa. Mereka tetap straight (kokoh pendirian)," katanya dalam konferensi pers, hari ini.

Selain itu, ia menilai upaya kampanye paslon 01 di Jabar tidak berhasil mendongkrak elektabilitas. Walau pun kubu 01 sudah merangkul nyaris seluruh tokoh politik penting di Jabar seperti Deddy Mulyadi, Dedi Mizwar, Ridwan Kamil. Bahkan jumlah kampanye Jokowi-Ma'ruf disana terbilang masif.

"Pendekatan dengan door to door dan canvasing untuk gempur pertahanan lawan tidak begitu signifikan dampaknya," ujarnya.

Akhmad memandang hasil pilpres di Jabar sebaiknya dijadikan pelajaran untuk pilpres selanjutnya. Sebab, ternyata kepuasan terhadap pemerintah tak sejalan dengan elektabilitas di daerah itu.

"Ini sebuah fenomena unik karena tingginya tingkat kepuasan publik pada pemerintah yang ada tidak selalu linear dengan tingkat elektabilitas," ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA