Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Real Count KPU: Jokowi-Maruf Sementara Unggul, 54,88 Persen

Sabtu 20 Apr 2019 16:50 WIB

Red: Andri Saubani

Jurnalis mengambil gambar pada layar perolehan suara sementara di Pusat Informasi Penghitungan Suara dan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Tahun 2019 di Kantor KPU, Jakarta, Sabtu (20/4).

Jurnalis mengambil gambar pada layar perolehan suara sementara di Pusat Informasi Penghitungan Suara dan Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Tahun 2019 di Kantor KPU, Jakarta, Sabtu (20/4).

Foto: Republika/Prayogi
Saat ini, sudah ada data 37.817 dari 813.350 TPS yang masuk dan diinput.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Maruf Amin masih unggul sementara dari pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga Uno berdasarkan real count KPU RI di Jakarta, Sabtu (20/4). Jokowi-Maruf unggul dengan raihan 54,88 persen (3.974.960 suara), sedangkan Prabowo-Sandiaga berada pada angka 45,12 persen (3.267.434 suara).

Saat ini, sudah ada data 37.817 dari 813.350 TPS yang masuk dan diinput melalui laman real count resmi KPU (pemilu2019.kpu.go.id), atau sekitar 4,6 persen. Sementara itu, KPU menegaskan Situng hanya merupakan informasi dan tidak akan mempengaruhi penetapan hasil Pemilu 2019 karena rekapitulasi resmi tetap dilakukan secara manual.

Rekapitulasi suara berlangsung pada 18 April hingga 22 Mei 2019, dan dilakukan secara manual dan berjenjang, mulai tingkat kecamatan. Penghitungan manual kemudian diteruskan tingkat kabupaten/kota dilanjutkan ke provinsi kemudian terakhir tingkat nasional.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Arief Budiman menegaskan, tidak ada rekayasa dalam proses penghitungan faktual (real count), Sabtu (20/4). Ketika ditanyakan mengenai jumlah laporan yang masuk ke dalam situs penghitungan KPU, data paling banyak masuk dari Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Arief menjawab, semua daerah diberikan kesempatan yang sama dalam melaporkan hasil pemilu. "Ini se-Indonesia disuruh lapor. Gak ada tujuannya di sini masuk dulu, yang sana masuk dulu. Gak benar tendensi kayak gitu," kata Arief.

Kemudian Arief mengumpakan, jika ia meminta semua wartawan untuk meneleponnya. Ia tidak dapat memastikan siapa yang akan meneleponnya terlebih dahulu. Ia tidak bisa mengatur pihak yang akan menelepon pertama kali, serta pihak yang menelepon belakangan.

"Apa saya bisa pastikan siapa yang akan telepon duluan, siapa yang telepon belakangan?" tuturnya.

Selanjutnya, Arief menjelaskan, semua pihak dapat memantau secara langsung hasil penghitungan faktual melalui situs KPU. Ia menambahkan, data yang masuk berasal dari semua provinsi.

Menurut Arief, ada beberapa kendala perihal perbedaan waktu pelaporan hasil pemilu. Pertama, masalah koneksi internet. Kedua, proses penghitungan suara di setiap daerah tidak sama.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA