Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Ketua OJK Jelaskan Perekonomian Indonesia di Inggris

Ahad 21 Apr 2019 01:25 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Ratna Puspita

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keungan (OJK) Wimboh Santoso.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keungan (OJK) Wimboh Santoso.

Foto: Mohammad Ayudha/Antara
Perekonomian Indonesia tumbuh di angka 5,17 persen year on year (yoy) pada 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso berbicara dalam Indonesia Executive Forum 2019 di London, Inggris Raya. Ia menjelaskan perkembangan terkini tentang perekonomian Indonesia sekaligus mengundang investor Inggris untuk mendorong investasinya di pasar keuangan Indonesia. 

Baca Juga

“Perekonomian Indonesia tumbuh di angka 5,17 persen year on year (yoy) pada 2018. Angka itu paling tinggi ketiga di antara negara-negara G20 setelah India dan Tiongkok," ujar Wimboh melalui siaran pers Sabtu, (21/4).

Pencapaian itu, kata dia, membuktikan Indonesia memilki fundamental ekonomi makro yang solid. "Indonesia pun mampu ke luar dari tekanan dinamika global dari normalisasi suku bunga dan tensi perang dagang AS Tiongkok” jelasnya. 

Sejak awal 2019, lanjut Wimboh, nilai tukar rupiah mulai stabil. Kinerja IHSG juga terus meningkat bersamaan dengan masuknya modal asing seiring positifnya persepsi investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia. 

Tingkat inflasi Indonesia dinilai pula stabil dan cukup rendah. Sebab pada Maret, inflasi pada Maret 2019 berada di level 2,48 persen.

“Stabilitas dan kinerja sektor jasa keuangan terjaga dengan baik. Dengan didukung tingkat permodalan dan likuiditas yang memadai,” kata Wimboh.

Ia menyebutkan, intermediasi perbankan tumbuh mencapai 12,13 persen yoy pada Februari 2019, dengan tingkat rasio kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) rendah di 2,59 persen. 

"Intermediasi yang tumbuh positif ini didukung tingkat permodalan yang tinggi dengan Capital Adequacy Ratio di angka 23,86 persen. Pertumbuhan kredit perbankan ini diproyeksikan akan tumbuh 13+1 persen pada 2019," jelasnya. 

Peningkatan kinerja pasar modal Indonesia diproyeksikan akan mencapai 75 sampai 100 emiten dengan potensi penawaran umum berkisar Rp 200 triliun sampai Rp 250 triliun. Selain itu, peningkatan aset usaha perasuransian diperkirakan akan tumbuh positif.

Forum yang dihadiri oleh puluhan investor dan direktur kawakan Inggris ini diselenggarakan oleh Young Indonesian Professionals’ Association (YIPA) Inggris Raya. Berkerja sama dengan Bank Indonesia London, Institute of Directors (IoD) London, Accenture, dan Prudential.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA