Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

KPU Investigasi Video Pembakaran Surat Suara di Papua

Rabu 24 Apr 2019 14:12 WIB

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Andri Saubani

Komisioner KPU Ilham Saputra

Komisioner KPU Ilham Saputra

Foto: RepublikaTV/Havid Al Vizki
Beredar video seseorang membakar kotak dan surat suara di Distrik Tingginambut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ilham Saputra, mengatakan, pihaknya sedang menginvestigasi dugaan pembakaran kotak dan surat suara di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya, Papua. Kejadian ini sedang viral melalui sebuah video yang berisikan pembakaran kotak dan surat suara oleh warga setempat.

"Sekarang sedang diinvestigasi siapa pelaku pembakaran, berapa TPS kotak dan surat suara yang dibakar," ujar Ilham dalam keterangan tertulisnya, Rabu (24/4).

Ilham mengatakan, pihaknya sudah melakukan konfirmasi ke KPU Puncak Jaya melalui KPU Provinsi Papua. Berdasarkan konfirmasi tersebut, kata Ilham, kasus tersebut terjadi pada 23 April 2019 di distrik Tingginambut.

"Saya sudah konfirmasi ke Ketua KPU Papua. Kejadian terjadi kemarin Tanggal 23 April 2019, di distrik Tiginambut. Pemilu berjalan lancar, kotak suara sudah disimpan di kantor distrik. Menurut pengakuan Ketua KPU Puncak Jaya via Ketua KPU Papua," lanjut Ilham.

Saat ini, KPU  masih menunggu hasil investigasi dari KPU Puncak Jaya untuk mengambil langkah selanjutnya. "Kami masih menunggu informasi lanjutan dari KPU Puncak Jaya," tambahnya.

Sebelumnya, beredar video di media sosial berdurasi 05.07 menit. Dalam video itu seorang pria sedang menarasikan kejadian dalam video.

"Selamat siang inilah tempat pembakaran kotak suara maupun surat suara di distrik Tingginambut. Masyarakat melaksanakan pembakaran. Tolong teman-teman viralkan di medsos. Ini pelaksanaan Pilpres 2019 terburuk dalam sejarah. Di kabupaten Puncak Jaya tidak ada pilpres. Di desa-desa, di distrik-distrik semuanya surat suara diikat jadi satu oleh seorang Bupati, dikasikan ke bapak Jokowi. Ini namanya gak adil pilpres macam apa. Tidak ada pilpres cuma ada pileg. Pilpresnya diikat jadi satu. Dikasihkan ke bapak Jokowi. Memang dalam kecurangan ini gimana info bisa makmur dan maju kalau pilpresnya kaya gini. Ini penuh dalam kecurangan. Mama-mama angkat surat suara ke distrik dia akan buang."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA