Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Jumat, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 Februari 2019

Muhammadiyah Sambut Kerja Sama BI dengan Malaysia-Thailand

Selasa 12 Des 2017 15:43 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Gita Amanda

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas

Foto: Edi Yusuf/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muhammadiyah menyambut gembira kerja sama Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia (BNM) dan Bank of Thailand (BOT) yang telah menyepakati Local Currency Settlement Framework.

"Dengan adanya kesepakatan dan kerja sama ini berarti masing-masing negara dapat menggunakan mata uang masing-masing yaitu rupiah, ringgit dan baht dalam transaksi ekspor dan impor di antara ketiga negara. Hal ini jelas memiliki arti positif tidak hanya dalam mempermudah dan memperlancar perdagangan antar ketiga negara tapi juga akan meningkatkan efisiensi perdagangan," ujar Ketua Pemimpin Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Selasa (12/12).

 

Anwar menyatakan peningkatan efisiensi perdagangan bisa tercapai karena para pelaku usaha bisa langsung bertransaksi tanpa currency ketiga. Hal ini jelas akan bisa membantu memperkuat dan memperluas penggunaan ketiga mata uang tersebut dalam perdagangan dan investasi.

 

Kerja sama tersebut juga dirasa akan memperkuat stabilitas ekonomi dari masing-masing negara karena tidak lagi tergantung kepada mata uang asing lain terutama dolar Amerika Serikat. Di samping itu yang juga sangat diharapkan dengan adanya kebijakan ini adalah memperkuat rasa persatuan dan kesatuan antara rakyat di tiga negara.

 

"Yang perlu diwaspadai adalah rezim dolar AS terutama pemerintah Amerika Serikat yang jelas akan terusik dengan kebijakan ini karena akan mempengaruhi jumlah mata uang dolar yang beredar. Sehingga pada waktunya kebijakan ini akan berdampak terhadap perekonomian mereka," ujar Anwar.

 

Kebijakan ini menurut Anwar jelas akan menyebabkan berkurangnya permintaan akan dolar AS dan bila jumlah dan besarannya cukup signifikan maka tentu nilai dolar AS akan melemah dan hal tersebut tentu tidak diinginkan oleh Presiden Donald Trump.

 

Untuk itu Anwar menyarankan pemerintah dari masing-masing negara harus bisa melakukan konsolidasi dan mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi sehingga apa yang semula diinginkan bisa jadi tidak tercapai dan hal tersebut jelas bukan yang diinginkan.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES