Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

DIY Sebar 100 Ribu Kantong Penampung Abu Vulkanik

Jumat 21 Feb 2014 09:35 WIB

Rep: Neni Ridarineni/ Red: Muhammad Fakhruddin

 Petugas membersihkan abu vulkanik Gunung Kelud di pelataran Candi Prambanan, Sleman, Jateng, Senin (17/2).   (Antara/Regina Safri)

Petugas membersihkan abu vulkanik Gunung Kelud di pelataran Candi Prambanan, Sleman, Jateng, Senin (17/2). (Antara/Regina Safri)

REPUBLIKA.CO.ID, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Prasetuo Budilaksana mengatakan jumlah kantong yang sudah tersebar di masyarakat ada sekitar 100 ribu buah dan yang sudah dikumpulkan kembali dengan diisi abu vulkanik sekitar 30 ribu buah. ''Jadi sekitar 70 ribu kantong masih ada di masyarakat,''kata dia, kemarin Sore.

Truk yang disiapkan BPBD DIY untuk mengangkut kantong abu vulkanik yang disiapkan ada sekitar 60 buah. Menurut dia dana selama tanggap darurat dari biaya tak terduga sekitar Rp 1,9 miliar yang digunakan untuk kebutuhan sarana dan prasarana, mobilisasi mobil, truk evakuasi, karung, truk tanki untuk penyemprotan air, masker,  PAC untuk pernjernihan sumur galian dan lain-lain.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum (Kabid SDA DPU) Kabupaten Klaten Harjaka
meminta masyarakat tidak membuang abu vulkanik ke sunga, lantaran sekitar 50 persen saluran irigasi yang ada di Kabupaten Klaten ini terganggu oleh tebalnya lumpur abu vulkanik erupsi Gunung Kelud. Dampak selanjutnya, aliran air menjadi terhambat. Ini semua terjadi, karena dampak sedimentasi abu vulkanik yang cukup tebal.

Harjaka mengungkapkan, ''sedimentasi terjadi hampir di seluruh saluran irigasi di Kabupaten Klaten. Berdasar catatan Kabid SDA DPU Kabupaten Klaten, panjang saluran irigasi induk primer ada sekitar 43.000 Kilometer. Sedang saluran irigasi sekunder panjang sekitar 483.000 Km''.

Dari jumlah panjang saluran irigasi tersebut, kata Harjaka, pelayanan aliran air pada saluran irigasi tersebut hanya optimal 50 persen. Tidak optimalnya aliran irigasi itu, disebabkan saluran terkena sedimentasi abu vulkanik dampak hujan abu Gunung Kelud, Jum'at (14/2) lalu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA