Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 Februari 2019

Sabtu, 18 Jumadil Akhir 1440 / 23 Februari 2019

Perdagangan Ilegal, Primata Indonesia Terancam Punah

Kamis 29 Jan 2015 15:23 WIB

Rep: c74/ Red: Ilham

 Primata monyet ekor panjang (macaca Fascicularis) di dalam area Grojogan Sewu menjadi salah satu daya tarik pengunjung wisata di Grojogan Sewu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (7/4). (dok.Pushumas Kemenhut)

Primata monyet ekor panjang (macaca Fascicularis) di dalam area Grojogan Sewu menjadi salah satu daya tarik pengunjung wisata di Grojogan Sewu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Senin (7/4). (dok.Pushumas Kemenhut)

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Primata Indonesia menghadapi ancaman kepunahan karena perdagangan ilegal dan berkurangnya habitat mereka. Protection of Forest and Fauna (Profauna) mencatat ada 35 kasus kejahatan terhadap satwa liar sepanjang tahun 2014. Sejumlah kasus itu melibatkan sedikikitnya 400 ekor primata. 

Profauna melihat kejahatan terhadap primata ini disebabkan karena banyak yang berminat membeli. Jenis yang paling diminati adalah Kukang, Lutung Jawa, dan Owa. Primata dijual kisaran Rp 300 ribu sampai empat juta rupiah per ekor.

Sejak tahun 2014 Profauna menetapkan hari Primata Indonesia pada 30 Januari. Pada tahun pertama hari Primata diikuti oleh ratusan masyarakat dari 22 kota di Indonesia. Pada tahun ini mereka kembali mengajak masyarakat merayakan hari Primata dengan tema "Jangan Beli Primata".

"Tahun 2015 ini ada sekitar 50 kegiatan dalam rangka peringatan hari Primata Indonesia di berbagai daerah. Ini sangat menggembira karena meningkatk dibandingkan tahun sebelumnya," kata Juru Kampanye Profauna, Swasti Prawidya Mukti, Kamis (29/1).

Di seluruh dunia terdapat lebih dari 440 jenis primata, 40 jenis diantaranya ada di Indonesia. Namun menurut lembaga konservasi dunia IUCN, 70% jenis primata di Indonesia mengalami kepunahan. Yang paling terancam punah Tarsius Kerdil (Tarsius pumilus), Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), dan Simakobu (Simias concolor).

Yang semakin memprihatikan semakin banyak yang membeli dan memelihara primata. Para pembeli berdalih ingin melestarikan dan merawat. Padahal semakin banyak pembelian primata semakin banyak pula pemburuan primata yang menyebabkan kepunahan. 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA