Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Tuesday, 19 Rajab 1440 / 26 March 2019

Kementan Salurkan 2.000 Alat Mesin Pertanian

Ahad 05 Apr 2015 00:30 WIB

Red: Angga Indrawan

Kebun Jagung

Kebun Jagung

Foto: Adhi Wicaksono/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JENEPONTO -- Kementerian Pertanian menyalurkan 2.000 unit lebih alat mesin pertanian untuk Sulawesi Selatan. Bantuan diberikan guna mendukung produksi pertanian di daerah tersebut.

"Untuk mendukung Sulsel sebagai daerah penyangga pangan nasional, kami menyalurkan 2.000 unit lebih Alsintan dan sebanyak 101 unit ditujukan untuk Kabupaten Jeneponto," kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman di sela-sela panen raya jagung di Desa Mangepong, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sabtu (4/4).

Menurut dia, pemberian Alsintan tersebut merupakan bagian dari program mekanisasi pertanian. Bantuan juga termasuk salah satu dari lima pilar untuk mendukung sektor pertanian.

Kelima pilar tersebut adalah ketersediaan irigasi yang baik, Alsintan, benih, pupuk dan dukungan penyuluh. Apabila kelima hal itu tersedia, kata dia, maka sektor pertanian akan berkembang dan produksinya dapat optimal.

Sebagai gambaran, untuk produksi jagung di Kabupaten Jeneponto setelah menggunakan benih unggul NK 212, maka mampu menghasilkan rata-rata enam ton per hektare (ha) dari tiga ton per ha. Hanya saja, lanjut dia, peningkatan produksi jagung itu belum diikuti dengan kenaikan harga di tingkat petani.

Hal itu dikemukakan salah seorang petani asal Desa Tino, Kecamatan Tarowang, Kabupaten Jeneponto, Sulsel Saleh Liwang.

"Harga pembelian jagung di tingkat petani saat panen raya hanya Rp 2.400 per kilogram atau menurun dibandingkan harga sebelumnya yang rata-rata Rp 3.000 per kg," katanya.

Hal senada dikemukakan petani Desa Jombe, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulsel Nurdin. Dia mengatakan, petani sangat mendambakan harga jagung yang relatif stabil, sehingga semangat petani untuk menanam jagung untuk kebutuhan pakan ternak itu, tetap terjaga.

"Petani merugi, karena harga jagung yang dijual lebih murah dibandingkan biaya produksi, maka bisa jadi nanti petani engggan menanam jagung lagi," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA