Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Wednesday, 4 Rabiul Awwal 1442 / 21 October 2020

Kematian Dionisius, IDI Makassar Imbau Kenakan Pita Hitam di HKN

Kamis 12 Nov 2015 00:55 WIB

Red: Andi Nur Aminah

Imbauan kenakan pita hitam di Hari Kesehatan Nasional 2015 atas meninggalnya Dionisius Giri Samudra

Imbauan kenakan pita hitam di Hari Kesehatan Nasional 2015 atas meninggalnya Dionisius Giri Samudra

Foto: facebook

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyambut Hari Kesehatan Nasional (HKN), kabar duka datang dari kalangan medis. Seorang dokter yang menjadi pegawai tidak tetap (PTT) di RS Cendrawasih, Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, Dionisius Giri Samudra, meninggal dunia. Dokter yang tengah menjalankan program internship ini meninggal, Rabu (11/11) sekitar pukul 18.00 waktu setempat. (Baca Juga: Sulitnya Akses untuk Evakuasi, Dokter PTT Meninggal di Kepulauan Aru).

Kematian Dionisius disikapi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Makassar dengan mengeluarkan imbauan kepada seluruh dokter, paramedis dan mahasiswa kedokteran  membeli pita hitam dan mengenakannya di lengan baju putih mereka masing-masing.  "Malam ini beli pita, potong, pagi-pagi berjaga di depan pintu RS dan PKM masing-masing, lalu bagikan ke semua mahasiswa, dokter, paramedis. Kenakan pita hitam di lengan baju putih anda. Hanya itu saja," tulis Anton Christanto, dari IDI Cabang Makassar, Rabu (11/11). 

Imbauan Anton itu, disebar ulang oleh sejawatnya, Bambang Budiono, dokter senior di RS Awal Bros, Makassar melalui akun Facebook-nya. Anton menyatakan, seorang dokter muda yang menjalani program internship di RSUD Dobo Kepulauan Aru, Maluku, meninggal dunia karena malaria cerebral. (Baca Juga: Musibah Dokter PTT di RS Cendrawasih Dobo).

"Kepada seluruh para dokter, paramedis dan mahasiswa kedokteran, besok adalah hari kesehatan nasional. Besok bukan hari gembira, besok adalah hari berduka. Duka yang dalam menyelimuti kita semua," tulis Anton.

Menurutnya, Dionisius adalah seorang dokter muda, anak muda, berbakti untuk negara, untuk kesehatan rakyat terpencil yang tabah menjalani internship agar menyelesaikan pendidikan kedokteran yang panjang, birokratis, mahal, dan melelahkan. "Dengan berbekal uang Rp 2,5 juta sebulan dia berbakti di Maluku. Kini dia telah tiada. Dia telah tiada," ujarnya. 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA