Tuesday, 12 Rajab 1440 / 19 March 2019

Tuesday, 12 Rajab 1440 / 19 March 2019

Biksu di Indonesia Menangis Atas Tragedi Rohingya di Myanmar

Ahad 03 Sep 2017 19:45 WIB

Rep: Kabul Astuti/ Red: Andri Saubani

Pengungsi Muslim Rohingnya.

Pengungsi Muslim Rohingnya.

Foto: AP

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tokoh Buddha, Suhu Biksu Dutavira Mahastavira menyatakan keprihatinannya terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rohingya, Myanmar. Ia menyatakan, biksu yang melakukan pembunuhan dan pengusiran seperti yang terjadi di Rohingya dapat dinyatakan telah gugur kebiksuannya.

"Kami di Indonesia, saya pribadi dan rekan-rekan para biksu tidak hanya prihatin, tapi menangis kok bisa terjadi begini. Itu perlu diselidiki permasalahannya apa," kata Suhu Biksu Dutavira Mahastavira, yang akrab disapa Suhu Benny di Vihara Dharma Bakti Jakarta Barat, Ahad (3/9).

Suhu Benny mengimbau agar umat Buddha berbuat sesuatu sebagai bentuk nyata keprihatinan atas tragedi yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar. Hal itu sebagaimana yang dulu pernah dilakukan oleh Walubi dengan mengirim bantuan kemanusiaan langsung ke Rohingya, Myanmar.

Pemuka agama Buddha ini menegaskan, mazhab umat Buddha yang ada di Indonesia tidak ada hubungannya dengan mazhab yang ada di Myanmar. Ia menepis stigma negatif yang dialamatkan kepada para biksu setelah adanya tragedi di Myanmar.

Suhu Benny menjelaskan, seorang umat Buddha bisa menjadi biksu setelah melalui prosesi upacara Upasampada. Keterlibatan biksu dalam tindak kejahatan, penganiayaan, dan pembunuhan secara otomatis akan menggugurkan status kebiksuannya.

"Secara kebiksuan, ada seorang biksu ikut campur urusan yang seperti begini, pembunuhan pengusiran, itu kebiksuannya otomatis gugur. Yang dalam ayat disebut garuka karma, keupasampadaannya gugur," kata Suhu Benny.

Menurut Suhu Benny, pernyataan ini pernah dikeluarkan dari World Buddhist Sangha Council. Kitab suci agama Buddha juga sudah menyinggung kasus semacam ini. Menurutnya, biksu yang melakukan kejahatan dalam kitab suci disebut biksu gila (bikhu papah) yang tidak boleh diikuti dan harus dijauhi.

Ketua Yayasan Vihara Dharma Bakti Glodok Jakarta Barat, Tanady juga menyesalkan tragedi kemanusiaan yang terjadi terhadap etnis Rohingya di Myanmar. Ia berharap solidaritas antarumat beragama ini membawa solusi konkret bagi Muslim Rohingya di Myanmar.

"Kami berharap tragedi kemanusiaan ini segera berakhir dan saudara-saudara kita dapat hidup dengan tenang dan mendapatkan perlindungan dari pemerintah," ujar Tanady.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA