Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

Wednesday, 11 Rabiul Awwal 1442 / 28 October 2020

KLHK Bahas Antisipasi Pencemaran Asap Lintas Batas

Ahad 28 Jan 2018 19:57 WIB

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Gita Amanda

Pertemuan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) Januari 2018 di Yogyakarta.

Pertemuan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) Januari 2018 di Yogyakarta.

Foto: Humas KLHK
Pembahasan sebagai bentuk keseriusan pemerintah menjaga udara bersih.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan pembahasan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution atau Persetujuan ASEAN tentang Pencemaran Asap Lintas Batas. Hal ini sebagai bentuk keseriusan pemerintah dalam menjaga udara bersih jelang Asian Games.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK Nur Masripatin mengatakan, persetujuan ini merupakan bentuk komitmen Indonesia bersama-sama dengan negara-negara ASEAN, dalam menghadapi berbagai kendala penanganan asap lintas batas sebagai dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagai implementasinya, pada kesempatan tersebut, dilakukan pembahasan final terkait draft Agreement on the Establishment (AE) of the ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACCTHPC), yang sebelumnya telah dibahas sejak 2016.
 
Nantinya, Indonesia akan mensirkulir draft AE of ACCTHPC kepada AMS, untuk meminta AMS memberikan tanggapan tertulis secara formal terkait komentar, input, atau persetujuan AMS terhadap draft AE of ACCTHPC yang telah disepakati tersebut. "Setelah dokumen AE of ACCTHPC resmi disetujui oleh semua AMS, Indonesia akan menyiapkan Host Country Agreement, dokumen HCA akan ditandatangani oleh Indonesia dan Executive Director ACCTHPC," ujar dia melalui siaran resmi yang diterima, Ahad (28/1).
 
Nur Masripatin menambahkan, pembahasan kali ini difokuskan untuk membahas Pasal 20 tentang Amendements serta Lampiran 1, tentang Struktur ACCTHPC, draft Agreement on the Establishment of the ACCTHPC, yang belum selesai dibahas pada 2017. Pertemuan ini berlangsung selama tanggal 23-25 Januari 2018, dan dihadiri oleh perwakilan dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, serta perwakilan Sekretariat ASEAN.
 
Sementara itu, berdasarkan pantauan satelit NOAA, pada Sabtu (27/1) pukul 20.00 WIB, menunjukkan empat titik panas yang ada di Sumatera Barat (satu titik), Riau (satu titik) dan Kepulauan Riau (satu titik). Sedangkan enam titik ditunjukkan satelit TERRA AQUA (NASA) yang tersebar di Sulawesi Tenggara, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah.
 
Itu artinya, selama 1 Januari hingga 27 Januari 2018 berdasarkan satelit NOAA terdapat 36 titik, setelah tahun sebelumnya sebanyak 89 titik, sehingga terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 53 titik (59,55 persen). Sedangkan total 36 titik ditunjukkan Satelit Terra/Aqua (NASA) Conf. Level 80 persen, setelah tahun 2017 lalu menunjukkan 95 titik, sehingga saat ini menurun sebanyak 59 titik (62,10 persen).
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA