Jumat, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Jumat, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Kendala-Kendala Penanganan Gempa-Tsunami Menurut Basarnas

Jumat 05 Okt 2018 04:21 WIB

Red: Ratna Puspita

Petobo, Palu, Sulawesi Tengah pascagempa.

Petobo, Palu, Sulawesi Tengah pascagempa.

Foto: Republika TV/Fakhtar Khairon Lubis
Kendala-kendala tersebut mulai dari luas wilayah terdampak, akses, dan listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Proses pencarian dan pertolongan korban gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah menemui sejumlah kendala. Kendala-kendala tersebut mulai dari cakupan terdampak, akses, dan listrik. 

Kepala Biro Perencanaan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Abdul Haris mengatakan wilayah terdampak  yang luas menjadi salah satu kendala “Selain itu, tim pencarian dan pertolongan juga kesulitan memasukkan alat berat ke lokasi bencana karena akses menuju ke sana terputus,” kata Haris alam Forum Merdeka Barat 9 bertema Update Tanggap Bencana Sulteng di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (4/10).

Haris mengatakan aliran listrik yang terbatas juga menjadi kendala tersendiri. Untuk melakukan pencarian dan pertolongan, tim gabungan hanya mengandalkan pasokan listrik dari generator set.

Meskipun menghadapi beberapa kendala, personel Basarnas terus mengupayakan melakukan pencarian dan pertolongan. “Personel kami 477 orang,” kata dia. 

Dengan kekuatan itu, personel Basarnas dan potensi SAR telah berhasil menyelamatkan 86 orang dan mengevakuasi 442 korban meninggal dunia.

Rusak total

Infrastruktur dan sarana prasarana di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, rusak total akibat gempa disertai lumpur hitam pada Jumat (28/9) pekan lalu. Infrastruktur seperti jalan, drainase, jaringan sanitasi, irigasi dan tanggul, jaringan instalasi listrik, jaringan telkom dan lainnya rusak total.

Kerusakan terparah terjadi di tengah kelurahan tersebut, atau mulai dari Rumah Sakit Bersalin Nasanapura di Jalan HM Soeharto ke arah timur hingga tanggul irigasi. Sebagian besar infrastruktur dan sarana prasarana tersebut terkubur ke dalam tanah.

Saat gempa berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang, tanah terbelah dan turun kurang lebih 15 meter. Kerusakan semakin parah saat gempa disertai lumpur menggulung permukiman warga di Petobo. 

Kondisi itu pula yang membuat perkampungan atau yang oleh Suku Kaili Ledo di Petobo menyebut 'Ngata Petobo' kini hilang di telan bumi. "Kampung sudah tidak ada," ucap Sarman, salah satu warga Kelurahan Petobo korban gempa di sertai lumpur, Kamis.

Sarman hanya bisa pasrah dengan kenyataan yang terjadi. Ia dan keluarganya tidak dapat berbuat banyak. Saat gempa disertai longsor ia dan beberapa keluarganya berhasil selamat dari terjangan lumpur. Mereka berlari menyelamatkan diri hanya membawa badan dan bermodalkan pakaian di badan.

Kini mereka di lokasi pengungsian di Dusun Ranoropa, Desa Loru, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi. Sampai saat ini, akses menuju perkampungan Kelurahan Petobo masih tertutup.

Dari arah simpang tiga Dewi Sartika dan H.M Soeharto ke arah timur dari simpang tiga tersebut kurang lebih 100 meter, terdapat lumpur dan bangunan kurang lebih setinggi 7 meter di serta bangunan yang terseret lumpur. Karena itu, akses menuju Petobo dari arah tersebut tertutup lumpur.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA