Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Friday, 15 Rajab 1440 / 22 March 2019

Tingginya Harga Pesawat Picu Lesunya Wisata Lombok

Ahad 10 Feb 2019 23:28 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsyi / Red: Nashih Nashrullah

Suasana LIA yang lengang.

Suasana LIA yang lengang.

Foto: Republika/ Muhammad Nursyamsi
Tingkat kunjungan wisatawan menurun drastis pascagempa.

REPUBLIKA.CO.ID,  LOMBOK TENGAH – Sepinya penumpang pesawat di Lombok International Airport (LIA) berbanding lurus dengan kondisi di destinasi wisata yang ada di Lombok. 

Republika.co.id  menyambangi kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika yang merupakan destinasi wisata yang relatif dekat dari LIA dengan jarak 19 km atau kurang dari 30 menit. 

Aktivitas KEK Mandalika, terutama di sepanjang Pantai Kuta relatif sepi. Terlihat hanya beberapa wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman) yang jumlahnya bisa dihitung jari. 

Inaq-inaq (ibu-ibu) pedagang kerajinan tangan khas Lombok praktis hanya duduk-duduk di bawah pohon sembari berharap datangnya pengunjung. 

Seorang tukang parkir motor di Pantai Kuta, Dinah, mengaku tingkat kunjungan wisatawan menurun drastis pascagempa. 

Jika hari-hari biasa, motor yang parkir di tempatnya bisa mencapai puluhan motor, kini hanya ada belasan motor saja. Tarif parkir dipatok Rp 5 ribu per motor. 

"Sejak gempa sepi sampai sekarang, dapat Rp 50 ribu saja sudah bagus sekarang," ujar Dinah di Pantai Kuta, KEK Mandalika, Lombok Tengah, Sabtu (9/2).

Pantauan Republika.co.id di sepanjang Jalan Pariwisata Pantai Kuta dan Jalan Raya Kuta yang menjadi pusat hotel dan homestay bagi wisman juga relatif lengang. 

Tidak tampak aktivitas berarti di sejumlah pusat penjualan oleh-oleh dan kerajinan tangan yang berada di kawasan tersebut. 

Resepsionis JM Hotel Kuta Lombok, Ema, mengatakan tingkat okupansi kamar hotel relatif rendah saat  low season ini. Hotel yang berada di Jalan Pariwisata Pantai Kuta ini memiliki 24 kamar dan hanya terisi setengahnya. 

Mayoritas tamu, kata Ema, adalah wisman yang memiliki kecenderungan menginap cukup lama, berkisar dua pekan hingga satu bulan. 

"Kondisi sekarang bisa dibilang sudah lumayan dibandingkan saat gempa yang sepi sekali (tamu). Lumayan ada tamu asing soalnya mereka menginap bisa sampai satu bulan," kata Ema.

Seorang turis asal Belanda, Renze, mengaku senang dengan sejumlah destinasi yang ada di Lombok. Renze mengatakan pertama kali berkunjung ke Indonesia. Sebelum ke Lombok, Renze berlibur di Bali. 

Menurut Renze, Lombok memiliki alam yang sangat indah dan relatif tidak seramai Bali. 

"Indonesia, dan juga Lombok negara yang indah. Meski baru pertama ke Indonesia, saya merasa sudah jatuh cinta terhadap orang-orangnya yang ramah, murah senyum,  dan yang paling penting suka tertawa," kata Renze kepada Republika.co.id di LIA.

Renze memilih Gili Air sebagai destinasi berliburnya selama di Lombok sebelum kembali melanjutkan perjalanannya ke Sulawesi.

 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA