Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Tuesday, 16 Safar 1441 / 15 October 2019

Debat Capres Kedua Diharap Sajikan Isu Kedaulatan Energi

Ahad 17 Feb 2019 04:14 WIB

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Didi Purwadi

Suasana gladi kotor debat kedua Pilpres 2019 di Ballroom Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu (16/2).

Suasana gladi kotor debat kedua Pilpres 2019 di Ballroom Hotel Sultan, Senayan, Jakarta, Sabtu (16/2).

Foto: Republika/Putra M. Akbar
Komoditi yang tidak boleh diprivatisasi yaitu energi, pangan dan air.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Institut Hijau Indonesia, Chalid Muhammad, berharap debat capres kedua pada Ahad (17/2) malam ini memberikan jalan keluar atas segala masalah terkait perekonomian di Indonesia. Salah satu hal penting, menurutnya, Indonesia seharusnya sudah berdaulat dalam bidang energi, pangan dan air.

''Tiga komoditi utama yang merupakan sumber daya publik yang tidak boleh diprivatisasi yaitu energi, pangan dan air,'' kata Chalid dalam acara diskusi di Kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu (16/2).

Ketika ketiga komoditi tersebut tidak berdaulat, kata Chalid, maka Indonesia akan sangat rapuh sebagai sebuah negara. Indonesia sangat bergantung pada korporasi dan negara lain.

Sehingga, sambung dia, ada baiknya debat capres nanti fokus untuk melihat seberapa berdaulat Indonesia di bidang energi, pangan, dan air. Kedaulatan pangan, air, dan energi hanya mungkin dipenuhi jika infrastruktur tersedia.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan strategi alternatif baru untuk mengatasi persoalan pangan. Karena, Indonesia disebut tidak bisa hanya bertumpu pada beras.

''Soal pangan, kalau pakai pendekatan model pangan sekarang, kekuatan pada beras, maka saya berani bertaruh siapapun presidennya pasti akan impor pangan,'' ujarnya.

Padahal, sambung dia, Indonesia mempunyai beragam jenis pangan. ''Orang Maluku makan sagu, orang Jawa makan ketela. Beragam sekali jenis pangan kita,'' kata Chalid. ''Tetapi ketika ada politik revolusi hijau, semua orang tertinggal kalau tidak makan beras. Akibatnya Bulog urusan beras, bukan logistik.''


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA