Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Selasa, 22 Syawwal 1440 / 25 Juni 2019

Penyelamatan Taman Nasional Gunung Leuser Libatkan Warga

Senin 18 Feb 2013 18:29 WIB

Rep: Ratna Puspita/ Red: Heri Ruslan

Salah satu sudut Taman Nasional Gunung Leuser, di Provinsi Sumatera Utara.

Salah satu sudut Taman Nasional Gunung Leuser, di Provinsi Sumatera Utara.

Foto: http://www.wisatanesia.com

REPUBLIKA.CO.ID,  MEDAN -- Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang terletak di Aceh dan Sumatera Utara berada dalam kondisi kritis karena terus dirambah.

Berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) bidang lingkungan di wilayah setempat terus melakukan upaya penyelamatan TNGL, di antaranya dengan

melibatkan warga.

Salah satu yang melakukan cara ini, yaitu Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Center (YOSL-OIC), yang disokong oleh Tropical Forest Conservastion Action (TFCA) Sumatera.

Masrizal Saraan dari YOSL-OIC mengatakan, keterlibatan masyarakat dilakukan agar mereka ikut menjaga salah satu paru-paru dunia tersebut. "Kami melakukan reforestasi atau penanaman kembali," kata dia, di Medan, Senin (18/2).

Dia mengatakan, restorasi dan rehabilitasi dilakukan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) Blok Karo-Langkat, sejak April tahun lalu. Tepatnya di Resort Sei Betung dan Karo.

"Kalau upaya sosialisasi kepada masyarakat setempat sudah dimulai sejak 2007," ujar Masrizal.

Masrizal mengatakan, restorasi yang dilakukan di Resort Sei Betung mencapai 140 hektare, dan 10 hektare di Karo. Proses sejak sepuluhbulan lalu itu, dia menjelaskan, dimulai dengan pembentukan kelompok tani dan penyuluhan.

Saat ini, ada 50 orang yang terbagi dalam lima kelompok tergabung dalam program ini.

Selanjutnya, masyarakat melakukan penanaman kembali. Masrizal menyebutkan, ada 41 jenis bibit yang ditanam di Resort Sei Betung pada Oktober lalu. "Yang ditanam merupakan tanaman produksi, seperti rambutan," ujar dia.

Tidak hanya penanaman kembali, YOSL-IOC juga melakukan pendirian pondok yang berfungsi sebagai posko penjagaan. Mulai April mendatang, masyarakat akan dilatih untuk melakukan patroli hutan. Masrizal menyebutkan, ada empat pondok restorasi di Sei Betung dan satu di Karo.

Masyarakat juga dilatih memanfaatkan apa yang ada di dalam hutan tanpa merusaknya, seperti membuat kompos dari kotoran gajah liar. Hingga Desember lalu, warga sudah berhasil memproduksi 900 kilogram kompos.

Untuk masyarakat yang menggarap perkebenunan, mereka dilatih untuk mengurangi penggunaan pestisida. Masrizal mengatakan, pengurangan bahan-bahan kimia ini dilakukan di Perkebunan Kakao, Kopi, dan Hortikultura.

Tropical Forest Conservastion Action (TFCA) Sumatera merupakan inisiatif yang diprakarsai Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia.

Lembaga ini untuk mewujudkan pengelolaan hutan lestari di Indonesia dengan sumber pendanaan dari program pengalihan utang untuk lingkungan (debt-for nature swap).

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA