Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Thursday, 17 Syawwal 1440 / 20 June 2019

Tohari: Tugas Utama Jadikan Bahasa Indonesia Berwibawa

Kamis 26 May 2016 07:14 WIB

Red: Angga Indrawan

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Sastrawan dan budayawan Ahmad Tohari menegaskan tugas utama seluruh komponen bangsa menjadikan bahasa Indonesia berwibawa. Ini dapat dilakukan dengan kesetiaan berbahasa Indonesia.

"Kalau bahasa Indonesia berwibawa, saya yakin orang-orang asing akan datang ke sini untuk belajar," katanya usai seminar "Kemandirian Bangsa Melalui Sastra dan Budaya" di Semarang, Rabu (25/5).

Tohari menjadi salah satu pembicara pada seminar yang diprakarsai Balai Bahasa Jawa Tengah dan Himpunan Sarjana Kesusasteraan Indonesia (Hiski) Jateng yang berlangsung di Wisma Perdamaian Semarang. Menanggapi rencana pemerintah untuk menyiapkan bahasa Indonesia agar bisa menjadi bahasa internasional, salah satunya menambah jumlah kosakata, dia mengatakan bahwa cita-cita tersebut terlalu mulia.

"Bagaimana bahasa Indonesia bisa bertahan pada dirinya sendiri saja, itu sudah bagus. Kalau penyerapan, sekarang berapa persen bahasa Arab yang diserap ke bahasa Indonesia? Banyak sekali," katanya.

Namun, dia mengingatkan penyerapan kosakata asing ke dalam bahasa Indonesia tersebut dilakukan sepanjang tidak ada padanan kata yang maknanya sesuai dan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Maka dari itu, Tohari lebih mengajak masyarakat untuk setia menggunakan kosakata bahasa Indonesia yang sudah tersedia dan tidak gampang terpengaruh dengan kosakata asing dalam bertutur dan menulis.

"Sebagai contoh, destinasi. Destinasi itu 'kan tujuan, di dalam kamus sudah ada kata paran dengan arti sama. Ada pula donasi. Kenapa tidak menggunakan kata bantuan? Artinya 'kan juga sama," katanya.

Akan tetapi, kata Tohari, ada kosakata atau istilah tertentu yang memang tidak bisa dicarikan padanannya dalam bahasa Indonesia sehingga harus diserap dalam penggunaan berbahasa, seperti "frekuensi". Kelatahan menggunakan kosakata asing, lanjut dia, ternyata dilakukan pula lembaga-lembaga pemerintahan yang semestinya menjadi teladan masyarakat dalam kesetiaannya menggunakan bahasa Indonesia.

"Banyak pertandingan yang dinamai 'bupati cup', 'kapolres cup'. Kenapa tidak piala bupati saja? Kalau mau bahasa Indonesia berwibawa, ya, harus dari diri sendiri setia menggunakannya," kata dia.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA