Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Saturday, 20 Ramadhan 1440 / 25 May 2019

Jusuf Kalla Berikan Kuliah Umum tentang Islam Moderat di Oxford

Jumat 19 May 2017 14:27 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Angga Indrawan

Wakil Presiden Republika Indonesia Jusuf Kalla

Wakil Presiden Republika Indonesia Jusuf Kalla

Foto: ROL/Abdul Kodir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla memberikan kuliah umum tentang Islam di Oxford Centre for Islamic Studies, London. Jusuf Kalla menyebut Islam di Indonesia termasuk yang moderat. Islam di Indonesia merupakan Islam jalan tengah yang memiliki ciri-ciri pergaulan hidup yang berbeda dengan Islam di Timur Tengah.

"Islamnya sama, tapi cara gaya hidupnya, pergaulannya lebih kepada suatu yang dapat bersama berdampingan secara sesama agama maupun dengan agama yang lain dengan baik," ujar Jusuf Kalla dalam siaran pers, Jumat (19/5).

Dalam pidatonya, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ketiga dengan popuasi muslim terbesar di dunia. Namun, Indonesia bukan negara Islam. Indonesia memiliki dasar negara Pancasila yang menempatkan agama di tempat yang mulia sebagai prinsip pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Indonesia terkenal dengan keanegaraman etnis, agama, adat istiadat, dan bahasa daerah yang berada dibawah asas negara yakni Bhinneka Tunggal Ika. Dibawah asas tersebut, Indonesia selalu merayakan semua hari raya keagamaan yang mengarah pada toleransi dan koeksistensi damai. Oleh karena itu, prinsip tersebut membentuk negara dan membantu mencapai tujuan pembangunannya.

"Islam datang ke Indonesia dengan damai, melalui guru sufi, perdagangan, dan perkawinan, tidak dengan kekuatan peang. Dengan demikian, Islam di Indonesia berkembang dengan cara damai," kata Jusuf Kalla yang juga menjabat sebagai ketua umum Dewan Masjid Indonesia. 

Dalam kesempatan tersebut, Jusuf Kalla mengucapkan selamat dan memuji Kota London karena telah memiliki walikota muslim yang terhormat. Dia mencontohkan bahwa di Indonesia juga mempunyai beberapa gubernur dan walikota non muslim di daerah yang penduduknya mayoritas muslim. Menurutnya, hal tersebut merupakan salah satu contoh toleransi yang ada di Indonesia. 

Jusuf Kalla menegaskan, Islam datang ke Asia Tenggara bukan dengan perang atau paksaan. Islam di Asia Tenggara disebarkan oleh para guru sufi dan pedagang Arab selama abad ke-8 dan ke-9, kemudian bercampur dengan budaya serta kearifan lokal setempat sehingga mengarah pada penciptaan jalan tengan Islam atau Wasatiyah. Ada banyak organisasi muslim Wasatiyah di Indonesia yang sebagian besar didirikan pada masa penjajahan Belanda. 

Beberapa organisasi atau kelompok kecil ditemukan memiliki kecenderungan atau kaitan dengan gerakan radikal terutama setelah bangkitnya Alqaidah dan ISIS. Namun, kelompok penyimpang tersebut tidak pernah berhasil menyebarkan ajaran radikal di Indonesia berkat peran penting yang dimainkan oleh dua organisasi muslim terbesar yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). 

"Nu dan Muhammadiyah bersama dengan organisasi muslim Wasatiyah lainnya di seluruh Indonesia secara konsisten menyampaikan anti radikalisme dan anti terorisme sambil memperkuat sikap moderat," ujar Jusuf Kalla. 

Menurut Jusuf Kalla, ada peran penting yang bisa diberikan oleh Indonesia dan Oxford Centre for Islamic Studies untuk saling bekerja sama. Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia dapat memberikan perspektif yang berbeda untuk menghadapi tantangan yang dihadapi oleh dunia Islam. 

Saat ini pemerintah sedang memepersiapkan Universitas Islam Internasional Indonesia yang dibangun di Jakarta. Diharapkan, universitas ini bisa menjadi pusat studi islam serta berkontribusi pada penyebaran islam yang toleran dan damai ke seluruh dunia. Apalagi jumlah umat muslim di dunia semakin meningkat dan diprediksi Islam akan menjadi agama terbesar di dunia pada akhir 2075. 

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA