Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Wednesday, 24 Safar 1441 / 23 October 2019

Kisah Menteri Yohana Tembus Belantara Konflik Afghanistan

Jumat 19 May 2017 18:33 WIB

Rep: Kabul Astuti/ Red: Indira Rezkisari

 Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise, baru saja menghadiri Symposium on the Role and Contribution of Afghanistan Women for Peace, di Kabul, Afghanistan, 15-16 Mei 2017. Ia menuturkan perjalanannya menembus belantara konflik di Afghanistan.

Kedatangan Yohana ke Afghanistan dilakukan atas undangan dari Ibu Negara Afghanistan, HE Rula Gani untuk menjadi keynote speaker dalam simposium internasional. Ia juga hendak bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan Afghanistan HE Dilbanasari. Ada menteri dari beberapa negara Islam yang turut hadir dalam simposium.

Jelang keberangkatan ke Afghanistan, Yohana mengaku sempat gamang. Ada bom meledak empat kilometer dari hotel ketika dia hendak berangkat ke Afghanistan. Tak heran, sebab kondisi keamanan di Afghanistan belum dapat dikatakan kondusif setelah konflik puluhan tahun.

"Saya memang ada perasaan takut juga setelah dengar berita-berita, apalagi beberapa hari belum saya tiba ada bom meledak di sekitar situ juga, dekat dengan hotel," kata Yohana Yembise, di Kemen PPPA Jakarta, Jumat (19/5).

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Afghanistan atas rekomendasi Kementerian Luar Negeri RI tadinya sempat tidak mengizinkan Yohana pergi. Tapi, Yohana mengatakan, dirinya sudah ditentukan menjadi pembicara kunci. Tidak ada menteri perempuan dari negara lain untuk menggantikan. Ia juga tidak hendak mengecewakan Ibu Negara Afghanistan.

Yohana baru mantap berangkat setelah bertemu Presiden Jokowi yang saat itu sedang berada di Jayapura, Papua. Jokowi memberikan izin dan dukungan untuk berangkat. "Akhirnya, saya minta izin presiden. Presiden setuju dengan catatan ada high label security untuk mengamankan saya," tutur Yohana.

Lanjut Yohana, Ibu Negara Iriana Joko Widodo juga sangat mendukungnya menghadiri simposium di Kabul, Afghanistan. Ada kurang lebih lima orang perempuan, termasuk dua wartawan, dan satu ajudan laki-laki yang pada akhirnya berangkat ke Afghanistan.

Meski ada aksi demontrasi di sekitar bandara, rombongan Menteri PPPA bisa melalui dengan penjagaan khusus. Menurut Yohana, jalur yang dilewati ini merupakan jalur hijau yang sudah disterilkan dengan pengamanan ketat. Ia selamat diantar sampai ke hotel. Pengamanan di hotel pun sangat ketat oleh para tentara.

Meski sempat khawatir, ia percaya kedatangannya membawa misi kemanusiaan untuk membantu perempuan-perempuan Afghanistan. "Saya mungkin orang kedua setelah Soekarno yang datang di tahun 1961. Dan, mungkin menteri pertama saya yang berani masuk ke sana setelah 56 tahun," ujar Yohana.

Kunjungan Menteri PPPA Yohana Yembise ke Afghanistan ini sekaligus merupakan tindak lanjut pertemuan Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani dengan Presiden Indonesia Joko Widodo di Istana Negara Jakarta pada 5 April 2017.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA