Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Rabu, 24 Safar 1441 / 23 Oktober 2019

Bom Bunuh Diri Bentuk Kesesatan Paham Beragama

Kamis 25 Mei 2017 20:13 WIB

Rep: Muhyiddin/ Red: Indira Rezkisari

 Terminal Kampung Melayu masih ditutup pascaledakan bom, Jakarta, Kamis (25/5).

Terminal Kampung Melayu masih ditutup pascaledakan bom, Jakarta, Kamis (25/5).

Foto: Republika/ Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyongsong datangnya bulan suci Ramadhan 1438 H, dunia dikejutkan dengan bom di Manchester Inggris, serangan teroris di kota Marawi Mindanao Filipina pada Selasa (23/5), serta yang terbaru, ledakan bom di Kampung Melayu, pada Rabu (24/5). Hal ini menunjukkan bahwa radikalisme atas nama agama sungguh sangat memprihatinkan.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan, rangkaian peristiwa itu memiliki pesan bahwa masih saja ada pemahaman yang berkembang di masyarakat dan kalangan umat beragama bahwa cara-cara seperti bom bunuh diri itu diperbolehkan sebagai bagian dari perjuangan atas nama agama.

"Tentu saja hal ini merupakan kesesatan pemahaman dalam beragama. Agama sama sekali tidak membenarkan cara-cara kekerasan seperti itu," ujar Kiai Said, di kantor PBNU, Kamis (25/5).

Karena itu, lanjut dia, menyaksikan dan mencermati rangkaian peristiwa tersebut, khususnya peristiwa bom di Kampung Melayu, Kiai Said menegaskan bahwa PBNU mengecam keras tindakan terorisme tersebut dan turut berbela sungkawa yang mendalam terhadap keluarga korban.

Selian itu, ia juga mendukung langkah-langkah aparat keamanan untuk mengusut tuntas motif, pola, serta gerakan yang memicu terjadinya peristiwa tersebut. Ia pun mengajak kepada seluruh warga Indonesia untuk tidak terprovokasi. "Segala hal yang mengandung kekerasan sesungguhnya bertentangan dengan ajaran Islam dan bahkan bertentangan dengan ajaran agama apapun," ucapnya.

Kiai Said mengatakan, PBNU juga mendesak pemerintah untuk mengambil langkah tegas serta cepat terkait penanganan dan isu radikalisme. Menurut dia, langkah ini harus ditempuh sebagai bagian penting dari upaya implementasi dan kewajiban Negara untuk menjamin keamanan hidup warganya.

"Dan apapun motifnya, kekerasan, radikalisme, dan terorisme tidak bisa ditolerir apalagi dibenarkan, sebab ia mencederai kemanusiaan," kata Kiai Said.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA