Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Ini Empat Nama yang akan Raih Gelar Pahlawan

Rabu 08 Nov 2017 15:56 WIB

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Budi Raharjo

Wakil Ketua Dewan Gelar Jimly Asshiddqie memberikan keterangan pers terkait pemberian gelar, Kamis (26/10).

Wakil Ketua Dewan Gelar Jimly Asshiddqie memberikan keterangan pers terkait pemberian gelar, Kamis (26/10).

Foto: Republika/Debbie Sutrisno

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pemerintah berencana memberikan gelar kepahlawanan untuk empat nama yang dianggap memberikan pengorbanan berharga bagi Indonesia. Keempat orang ini berasal dari berbagai daerah dengan kerja nyata di daerah tersebut.

Wakil Ketua Dewan Gelar Jimly Asshiddiqie mengatakan, nama pertama yang akan mendapat gelar adalah Salah satunya, Laksamana Malahayati dari Kesultanan Aceh. Perempuan yang merupakan panglima perang angkatan laut dari Aceh ini ketika itu mampu menghadapi berbagai ancaman dari penjajah seperti Inggris, Portugis, dan Belanda.

"Laksaman ini sangat luar biasa. Nah dia seakan terlupakan padahal namanya sudah terpatri dalam nama kapal KRI, nama gedung, hingga nama jalan. Maka akan kita kukuhkan namanya menjadi pahlawan," ujar Jimly, Rabu (8/11).

Nama kedua yang akan mendapatkan gelar kepahlawanan adalah pendiri Nahdlatul Wathan, Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madji. Jimly menerangkan, KH M Zainuddin Abdul Madji yang juga adalah kakek dari Gubernur NTB saat, Muhammad Zainul Majdi.

Menurutnya, sama dengan Nahdatul Ulama (NU), Nahdatul Wathan (NW) didirikan sebagai bentuk kebangkitan Tanah Air untuk menghadapi ancaman Belanda. Ajaran dan ilmu yang diajarkan NW juga menjadi salah satu faktor kuatnya persatuan di daerah Nusa Tenggara Barat (NTB). "Apalagi NTB itu belum pernah ada pahlawan nasional, maka kita ikutkan," kata Jimly.

Ketiga, terdapat nama seorang raja dari Riau yang bukan hanya berjasa bagi Indonesia melainkan juga untuk negara Malaysia. Bahkan raja ini juga rencananya akan mendapatkan gelar kepahlawanan dari Malaysia, karena pada saat penjajahan dulu Riau yang berdekat dengan Malaysia menjadi daerah yang berhasil dijaga oleh raja tersebut.

"Nah kalau yang keempat itu pendiri HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Dia satu-satunya yang bukan dari daerah," ujar Jimly.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA