Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Pemerintah Diminta Pandai Memilah Penelitian Operasional

Kamis 04 Jan 2018 10:22 WIB

Rep: RR Laeny Sulistyawati/ Red: Winda Destiana Putri

Peneliti di laboratorium penelitian (Ilustrasi)

Peneliti di laboratorium penelitian (Ilustrasi)

Foto: Corbis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Hasbullah Thabrany meminta pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk lebih memilah penelitian operasional dan menambah dana hibah. Hal itu agar hasil penelitian guru besar tidak mangkrak dan hanya menjadi koleksi perpustakaan.

Ia mengkritisi,pemerintah langsung memberikan dana hibah tanpa melihat apakah penelitiannya operasional atau yang sifatnya dasar.

"Kadang pemerintah melalui Kemenristekdikti sekadar bagi-bagi saja dana hibah. Jadi harus pintar memilah," ujarnya saat dihubungi Republika, Rabu (3/1).

Jika kebijakan ini diteruskan, kata dia, tentu ini membuang-buang uang.Padahal, kata dia, di satu sisidana penelitian di Tanah Air masih kurang yaitu masih sekitar Rp 1 triliun. Sedangkan jumlah idealnya Rp 7 triliun.

Pemerintah, kata dia, seharusnya menyiapkan dana hibah untuk penelitian yang sifatnya operasional yang bisa diterapkan, diaplikasikan di masyarakat. Ia juga memintaKemenristekdikti melalui badan Litbang jangan menetapkan kebijakan sekadar memberi credit point pada peneliti.

Jadi, kata dia, badan litbang harus lebih memilih penelitian operasional dan membiayai penelitian untuk mendukung kebijakan kementerian.Hasbullah juga memintapeneliti guru besar lebih memprioritaskan penelitian operasional. "Guru besar jangan hanya (sekadar) meneliti. Banyak guru besar yang sekadar meneliti untuk memenuhi kewajiban tiga tahun sekali (harus membuat penelitian di jurnal)," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA