Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Jelang Pemilu, Hoaks Juga Ramai di AS dan Inggris

Rabu 07 Mar 2018 17:12 WIB

Rep: Farah Noersativa / Red: Budi Raharjo

Hoax. Ilustrasi

Hoax. Ilustrasi

Foto: ABC News
Kalau media sosial ditutup, elektabilitas Jokowi akan turun.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Merebaknya hoaks jelang Pemilu ternyata tak hanya terjadi di Indonesia.  Pakar Teknologi Informasi (IT) Ismail Fahmi menyebutkan hoaks juga terjadi di Amerika Serikat (AS) dan Inggris jelang pemilu.

 

Melihat fenomena itu, Ismail menganggap lumrah adanya hoaks terutama menjelang pemilu. Ia mencontohkan, ujaran kebencian juga turut meningkat pada media sosial jelang pemilihan rakyat Inggris menentukan keluar dari Uni Eropa (Brexit). Pun ketika Pilpres digelar di AS yang menampilkan dua kandidat capres, Hillary Clinton versus Donald Trump beberapa waktu lalu.

 

Namun, penyebaran hoaks itu juga dipengaruhi oleh budaya negara masing-masing. "Kalau saya lihat, negara seperti Jepang tidak terfokus pada hal-hal seperti ini (hoaks), mereka menggunakan media sosial untuk membangun, tidak seperti kita," ujar lulusan elektro ITB ini.

 

Terkait maraknya hoaks di dalam negeri yang sekarang ditimpakan pada kelompok the Family MCA, pemilik gelar S2 dan S3 Information Science dari Universitas Groningen, Belanda, ini  mengatakan, pemerintah juga mempunyai andil untuk bisa menurunkan produksi hoaks. Hal ini bukan berarti pemerintah harus menutup media sosial. "Kalau media sosial ditutup, elektabilitas Jokowi akan turun," kata dia.

 

Ismail menyarankan pemerintah untuk terus memberikan edukasi dan pendidikan literasi pada masyarakat mengenai pemakaian media sosial yang benar. Sebab, ia melihat merebaknya hoaks tidak lepas dari tingkat literasi yang rendah.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA