Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Sunday, 13 Syawwal 1440 / 16 June 2019

Seratus Kartunis Kumpul di Borobudur

Sabtu 22 Sep 2018 18:17 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Borobudur

Borobudur

Foto: Antara
Para kartunis harus melakukan inovasi dan memperkuat kemampuan kreatif.

REPUBLIKA.CO.ID, MAGELANG -- Sekitar 100 kartunis dari berbagai kota di Indonesia menggelar pertemuan bernama Borobudur Cartoonists Forum (BCF) di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pertemuan digelar selama 22-23 September 2018.

Ketua Panitia BCF Ke-2 Lukas Luwarso mengatakan tema BCF tahun ini 'Abad Visual' tentang upaya masyarakat memanfaatkan teknologi visual, gawai, dan internet secara optimal untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi banyak orang. Tema tersebut, ujar Luwarso yang juga aktif di Kelompok Kerja Dewan Pers dan pengajar Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) itu, juga untuk memperkuat kesadaran para kartunis dalam pemanfaatan medium baru era digital.

Ia mengatakan dunia kartun di media cetak makin sempit sehingga para kartunis harus melakukan inovasi dan memperkuat kemampuan kreatif untuk memanfaatkan peluang perkembangan dunia internet.

"Kartunis punya paradigma memanfaatkan medium baru digital. Kartun diarahkan salah satunya animasi dan sebagainya. Kartun tidak akan mati, bahkan di Amerika Serikat menjadi industri. Kalau kartun di dunia cetak lebih diarahkan ke buku dan komik," ujar dia.

Budayawan Erros mengemukakan pentingnya para kartunis memposisikan diri terkait dengan perubahan paradigma dari dua dimensi menjadi tiga dimensi, dan bahkan empat dimensi. Ia mengemukakan bahwa seni kartun menjadi istimewa dalam kemampuan menyampaikan pesan yang memperkaya makna, tafsir, dan interpretasi. Seni kartun mengajak manusia berpikir lebih kontemplatif.

Pesan melalui gambar kartun, kata dia, menuntut penerima pesan untuk tidak bersikap verval, apalagi banal. Ia mengatakan bahwa kartun mampu menyajikan fakta sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sepertinya rumit menjadi lebih simpel.

"Memacu manusia agar berpikir reflektif, kontemplatif, dan juga kreatif dalam melihat dan mengatasi persoalan," ujarnya.

Sumber : antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA