Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Wednesday, 21 Zulqaidah 1440 / 24 July 2019

Soal Bendera, Ketua MPR Minta Semua Saling Memaafkan

Sabtu 27 Oct 2018 09:46 WIB

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Muhammad Hafil

Seorang pengunjukrasa membentangkan bendera bertuliskan kalimat tauhid saat mengikuti aksi bela tauhid di Mataram, NTB, Jumat (26/10/18).

Seorang pengunjukrasa membentangkan bendera bertuliskan kalimat tauhid saat mengikuti aksi bela tauhid di Mataram, NTB, Jumat (26/10/18).

Foto: Antara/Ahmad Subaidi
Lebih baik mengutamakan persatuan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua MPR Zulkifli Hasan meminta semua pihak untuk saling memaafkan insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut beberapa waktu lalu. Ia menyayangkan tenaga masyarakat yang habis terbuang menyikapi kasus tersebut. Padahal seharusnya tenaga masyarakat dapat diarahkan pada hal positif.

"Untuk kita, sudahlah hentikan pro kontra dan keributan seputar kasus tersebut lebih baik saling memaafkan. Hentikan keributan antar anak negeri karena tidak ada manfaatnya dan hanya menguras energi," katanya dalam keterangan resmi pada wartawan, Jumat (26/10).

Ketua Umum PAN itu menegaskan bahwa lebih baik mengutamakan persatuan sebagai tugas dan peran semua anak bangsa. Ia menyebut tugas MPR ialah mensosialisasikan pentingnya menjaga persatuan, kebersamaan, saling menghormati dan menghargai. Sebab, hal-hal tersebut adalah kesepakatan para pendiri bangsa yang digunakan sebagai landasan kokoh Indonesia merdeka.

“Kami juga memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang harus kita jaga. Jangan sampai Indonesia yang terdiri dari keberagaman yang luar biasa sampai terkoyak-koyak. Para pendiri bangsa sudah meletakkan dasar untuk melupakan perbedaan dan hanya fokus kepada cita-cita bersama yakni Indonesia sejahtera. Itu tugas kami dan akan kami jaga terus,” jelasnya.

Walau begitu, ia mengakui banyak potensi gangguan terhadap persatuan Indonesia yang susah payah dibangun para pendiri bangsa. Khususnya akibat panasnya suasana tahun politik saat ini dan tahun 2019 karena berbeda pilihan.

“Makanya, untuk menjaga agar kegaduhan tahun politik bisa mereda bahkan hilang, MPR menjaga persatuan bangsa salah satunya dengan mengkampanyekan ‘Friendly Competition’. Pilihan boleh berbeda tapi semua tetap saudara. Tahun politik kita menjalankan demokrasi untuk kesejahteraan bersama bukan untuk berperang satu sama lain,” tuturnya. 

Baca juga: PBNU: Tak Ada Ulama Benarkan Tulis Kalimat Tauhid di Bendera

Baca juga: Jadi Mualaf, Sinead O'Connor Disambut Hangat Muslim Dunia

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA