Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

Thursday, 18 Safar 1441 / 17 October 2019

10 Bali Baru Genjot Devisa Tahun Depan

Jumat 02 Nov 2018 11:02 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Wisatawan berada di kawasan Pantai Bebas Danau Toba, Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (27/10). Pemerintah

Wisatawan berada di kawasan Pantai Bebas Danau Toba, Parapat, Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (27/10). Pemerintah

Foto: Antara/Irsan Mulyadi
Country branding 'Wonderful Indonesia' mengalahkan Malaysia dan Thailand.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memproyeksikan sektor pariwisata akan menjadi sektor unggulan yang menggenjot devisa hingga 20 miliar dolar AS tahun depan. Ini salah satunya dipicu perkembangan 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) atau lebih dikenal dengan sebutan 10 Bali Baru.

Kesepuluh destinasi tersebut adalah Danau Toba, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung,Kepulauan Seribu, Taman Wisata Candi Borobudur, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Pulau Morotai, dan Taman Nasional Wakatobi. Pemerintah saat ini juga memfokuskan pembangunan infrastruktur empat destinasi prioritas, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo.

"Dampak peningkatan di sektor ini akan dirasakan langsung semua lapisan masyarakat," kata Ketua Kelompok Kerja Bidang Percepatan Pembangunan 10 DPP, Hiramsyah, Jumat (2/11).

Pariwisata memiliki banyak keunggulan kompetitif dan akan menjadi kawasan pariwisata terbaik di regional dan ASEAN. Country branding 'Wonderful Indonesia' saat ini juga menempati peringkat 47 dunia, mengalahkan 'Truly Asia' milik Malaysia di peringkat 96 dan 'Amazing Thailand' di peringkat 83.

Tim juga mencatat terjadi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) sangat tinggi. PAD Kabupaten Samosir naik hingga 81,2 persen, kemudian Belitung (41,21 persen), Pandeglang (94,77 persen), dan Manggarai Barat (35,41 persen).

Data 2017 menunjukkan pariwisata menempati posisi terbesar kedua dalam penerimaan devisa negara mencapai 15,20 miliar dolar AS atau setara Rp 202,13 triliun dari target Rp 200 triliun. Jumlah ini meningkat 12 persen dari 2016.

Peringkat pertama kontributor devisa terbesar Indonesia masih minyak sawit (CPO). Minyak gas alam (migas) berada di posisi ketiga, disusul batu bara dan karet masing-masingnya keempat dan kelima.

"Tahun 2020 diharapkan sektor pariwisata akan menjadi core ekonomi Inodnesia dan menjadi penghasil devisa negara terbesar," kata Hiramsyah.



BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA