Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

Wednesday, 17 Safar 1441 / 16 October 2019

EWS akan Dipasang di Tiga Pulau Dekat Gunung Anak Krakatau

Jumat 28 Dec 2018 15:17 WIB

Red: Esthi Maharani

Foto radar satelit Gunung Anak Krakatau saat terjadi erupsi pada 22 Desember 2018 kemarin.

Foto radar satelit Gunung Anak Krakatau saat terjadi erupsi pada 22 Desember 2018 kemarin.

Foto: Time
Salah satu early warning system akan dipasang di Pulau Sertung

REPUBLIKA.CO.ID, PANDEGLANG -- Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjahitan menyatakan pemerintah akan memasang alat deteksi tsunami atau early warning system (EWS) di Pulau Sertung, pulau yang berada di perairan dekat wilayah Lampung.

"Kami akan memasang EWS di tiga pulau yang dekat dengan Gunung Anak Krakatau, di antaranya Pulau Sertung," kata Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Binsar Panjahitan saat meninjau posko bencana tsunami dan tempat pengusian di Mutiara Carita, Banten, Jumat (28/12).

Pemasangan alat deteksi tsunami itu, kata dia, guna meminimalisasi jatuhnya korban ketika bencana terjadi. "Sirine pada alat itu akan berbunyi ketika terjadi air pasang, maka masyarakat bisa segera mengungsi ke tempat aman untuk menghindari tsunami," katanya.

Luhut juga mengimbau masyarakat setempat agar tidak terpengaruh oleh isu hoaks terkait akan adanya gelombang tinggi, atau tsunami susulan. "Jangan cepat termakan isu hoaks, karena akan membuat suasana tidak kondusif," ujarnya.

Masyarakat, kata dia, harus tetap tenang. Ada pemerintah dan sekarang juga ada Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang terus memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau.

"Semua lapisan ada, termasuk Basarnas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI/Polri, jadi jangan terpengaruh isu. Konfirmasi pada pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya," katanya.

Terkait kejadian letusan Gunung Krakatau pada 1883 terulang kembali, ia menyatakan, butuh ribuan tahun lebih untuk terjadi kembali seperti itu. "Memang apapun bisa terjadi, tapi dari jarak tahun 1883 hingga saat ini baru berapa ratus tahun, tapi tetap kita waspada," ujarnya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA