Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Kamis, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Memahami Makna Khusyuk

Kamis 10 Jan 2019 05:35 WIB

Red: Agung Sasongko

Ribuan Jamaah sedang melakukan shalat subuh berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta (ilustrasi)

Ribuan Jamaah sedang melakukan shalat subuh berjamaah di Masjid Istiqlal, Jakarta (ilustrasi)

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Tatkala hati bersih maka luruslah segala tindakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tampaknya, fenomena minimnya khusyuk yang menghampiri umat sekarang telah diprediksikan oleh sejumlah salaf. Khusyuk tak lagi menjadi pemandangan lazim layaknya shalat yang ditunjukkan oleh kalangan salaf.

Bahkan, mereka menegaskan bahwa kekhusyukan termasuk perkara yang pertama kali hilang dan dicabut dari umat, selain ilmu. Umat masa kini cenderung terperangah dengan persoalan duniawi. Kesibukan mengurus urusan materi mengalihkan konsentrasi memperoleh khusyuk di shalat yang mereka kerjakan tiap harinya.

Menurut al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali (795 H) dalam kitab al-Khusyuk fi as-Shalat, yang menguak rahasia dan makna di balik kekhusyukan shalat, ketenangan jiwa tatkala menjalankan shalat lebih dikenal dengan istilah khusyuk. Shalat pada dasarnya tak sekadar ritual dan rutinitas yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Lebih dari itu, shalat adalah ikhtiar seorang hamba untuk menundukkan seluruh raganya.

Syadad bin Aus pernah mengatakan bahwasanya khusyuk termasuk perkara yang pertama kali akan sirna dari umat Islam. Sehingga, seandainya seseorang terlihat khusyuk maka pada hakikatnya tidak seperti itu. Kekhusyukan tersebut bukan kekhusyukan yang sebenarnya.

Abu ad-Darda' pernah menekankan hal yang sama. Menurutnya, ilmu yang pertama kali dihilangkan dari umat adalah ilmu khusyuk. Akibat hilangnya khusyuk tersebut, nyaris saja tidak ditemukan orang shalat khusyuk di tiap masjid.

Menurut Ibnu Rajab, fenomena di atas bisa diakibatkan oleh berbagai faktor. Di antara faktor yang cukup memengaruhi adalah problematika internal umat. Misalnya, munculnya konflik antaraliran Islam dengan tingkat dan intensitas tinggi. Dulu, konflik tersebut pernah terjadi pascaterbunuhnya Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib RA.


sumber : Islam Digest Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA