Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

Monday, 22 Safar 1441 / 21 October 2019

JK Bahas Empat Destinasi Wisata Superprioritas

Rabu 13 Feb 2019 15:00 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Muhammad Hafil

Stupa di puncak Candi Borobudur

Stupa di puncak Candi Borobudur

Foto: Antara
Empat destinasi wisata superprioritas masuk dalam 10 Bali baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengumpulkan sejumlah menteri untuk membahas empat destinasi wisata superprioritas, di antaranya Danau Toba, Candi Borobudur, Mandalika di Pulau Lombok, dan Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur (NTT). Empat destinasi superprioritas itu masuk dalam 10 wisata Bali baru yang ditetapkan Pemerintah era Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Itu disampaikan Menteri Pariwisata Arief Yahya usai rapat koordinasi pengembangan pariwisata dengan Wapres JK, Rabu (13/2). Menurut Arief, Wapres JK dalam ini bertindak sebagai ketua badan koordinasi kepariwisataan yang beranggotakan menteri-menteri terkait.

"Sekarang fokus ke 10 Bali baru, dari 10 Bali baru itu, Pak Presiden menetapkan empat super prioritas, nomor satu Danau Toba, dua Borobodur, tiga Mandalika, empat Labuan Bajo, Komodo," ujar Arief di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta.

Menurut Arief, dalam rapat juga dibahas mengenai potensi dan kendala masing-masing destinasi. Arief mengatakan, untuk destinasi wisata Danau Toba, dinilai tidak ada yang bermasalah, terutama dalam fasilitas bandar udara.

"Dana Toba tidak ada isu yang terlalu kritis disana, bandara internasional sudah kita resmikan November 2017 waktu itu, penerbangan 2017 naik 300 persen, tahun ini masih naik 50 persen, jadi oke, terutama untuk wisatawan nusantara," ujar Arief.

Berbeda halnya di Candi Borobudur, Arief menyebut destinasi wisata yang berada di Magelang, Jawa Tengah tersebut paling kritis dibandingkan empat destinasi lainnya. Bahkan, Arief menyebut Candi Borobudur dinilai Wapres JK masih kalah jauh dengan Angkot Wat di Kamboja.

"Borobudur kita kalah jauh dari Angkor wat kita hanya 250 ribu jumlah wismannya, karena Pak Wapres baru dari Kamboja, jadi beliau hafal sekali, 2,5 juta, 10 kali lipat," ujar Arief.

Menurut Arief, salah satu permasalahannya yakni bandar udara terdekat dengan kawasan Candi Borobudur yakni Bandara Adi Sutjipto, lokasinya dinilai cukup jauh.

Tak hanya itu, Bandara Adi Sutjipto juga dinilai sudah melebihi kapasitas. "Bandara existing kita kalo di Jogja kapasitasnya 1,5 juta, tapi bebannya enam juta, empat kali lipat," ujar Arief.

Karenanya, Arief menilai pembangunan bandara baru yakni New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo, diharapkan membantu peningkatan jumlah wisatawan ke Candi Borobudur. Sebab, keberadaan bandara baru tersebut ditargetkan mampu menarik dua juta wisatawan mancanegara ke Candi Borobudur dalam lima tahun.

"Tadi ditanya Pak Wapres, kapan kira-kira bandara yang baru akan diresmikan, ada menhub, ada menteri BUMN, kira-kira akan diresmikan pada bulan April 2019 tahun ini, kalau bandara itu ada targetnya saya adalah dua juta dalam waktu 5 tahun sebesar angkor wat," ujarnya.

Sementara untuk destinasi di Mandalika, Pulau Lombok dan Labuan Bajo, Pemerintah ingin meningkatkan infrasruktur untuk menarik wisawatan mancanegara di masing-masing destinasi tersebut.

"Kita akan bangun sirkuit Moto GP, mungkin 2020 kita sudah punya Moto GP kemugkinan yang pertama akan ada di mandalika, lalu yang terakhir Labuan Bajo, kita harapkan tahun ini juga 2019 sudah mempunyai marina yang baru dan hotel yang baru dibangun," ujar dia.

Hadir dalam rapat tersebut, antara lain Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutana Siti Nurbaya dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA