Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Friday, 14 Sya'ban 1440 / 19 April 2019

Soal Energi, Konsumen Lihat Ketersediaan dan Keterjangkauan

Selasa 26 Feb 2019 14:48 WIB

Red: Agung Sasongko

Energi terbarukan/ilustrasi.

Energi terbarukan/ilustrasi.

Foto: abc
Selain ketersediaan, konsumen juga pertimbangkan keterjangkauan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Upaya pengalihan energi perlu mempertimbangkan sejumlah faktor. Salah satunya, adalah ketersediaan.

Pengamat energi dari Universitas Negeri Gajah Mada, Fahmi Radhi mengungkap, saat ini masih terdapat dua pola dalam konsumsi energi oleh masyarakat yakni aspek ketersediaan dan keterjangkauan.

“Saat ini konsumen belum memikirkan apakah sumber energinya berasal dari batubara, migas, ataukah bagian dari energi baru terbarukan (EBT). Yang penting, energinya harus tersedia dan terjangkau,” jelas Fahmy dalam siaran persnya, Selasa (26/2).

Menurut Fahmy Radhi harus ada sejumlah manfaat yang diperoleh masyarakat, apabila nantinya pengalihan pola konsumsi ini terjadi. 

Ia memberikan contoh, saat terjadi migrasi ke mobil listrik. “Manfaat langsung yang dirasakan konsumen, terutama karena yang digunakan energi listrik, termasuk energi bersih (clean energy). Ini dimungkinkan, mengingat ada sebagian masyarakat yang mulai sadar lingkungan. Maka di sini energi listrik menjadi pilihan, seperti halnya mobil listrik dan kompor listrik (induksi). 

Pakar ketenagalistrikan dan Guru Besar FT-UI Professor Iwa Garniwa mengemukakan hal senada. Dia mencontohkan penggunaan kompor listrik untuk memasak, manfaatnya lebih bersih (ramah lingkungan) dibandingkan menggunakan energi migas. 

Namun kalau ditinjau dari segi harga, apakah listrik lebih murah dengan harga yang ada sekarang, ia tidak bisa menjawab secara pasti. Lima tahun lalu ia melakukan riset memasak satu objek yang sama dengan gas dan listrik, memang lebih murah, memakai listrik. Sekarang harga listrik sudah berbeda.

“Jika pemerintah memutuskan menaikkan atau menurunkan harga migas, bisa jadi harganya lebih mahal atau murah perbandingannya, antara memasak menggunakan bahan bakar migas atau listrik. Jadi penetapan harga itu relatif sifatnya,” papar Anggota Panitia Akreditasi Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM ini.

Lebih jauh Iwa yang juga Ketua Electrical Power and Energy Studies (EPES) UI dan Kepala Laboratorium Sistem Tenaga Listrik Departemen Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, ini menekankan, perhatian jangan terkonsentrasi pada peralatan listrik yakni harga terjangkau, melainkan sebaiknya mempertimbangkan juga pada aspek lain, seperti pada kapasitas produksi kompor listrik. 

“Teknologi harus diikuti kebijakan yang mendukung teknologi tersebut. Misalnya penggunaan kompor listrik yang mau ditingkatkan dengan pertimbangan tadi, maka pemerintah harus membuat kebijakan, harga kompor listrik murah, dan tersedia di mana-mana.” katanya.

Tapi memang Iwa mengakui, dengan menggunakan listrik maka memasak akan lebih praktis. Sementara kalau dari sisi keamanan, relatif sama karena memasak, baik menggunakan gas maupun listrik, keduanya ada pengamannya masing-masing.

Secara terpisah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, mengemukakan, penggunaan sejumlah perlengkapan berbasis listrik mulai dari kompor listrik, mobil dan motor listrik akan menjadikan konsumen memiliki pilihan dalam komoditas energi.

“Artinya apabila tersedia semakin banyak pilihan energi yang disediakan oleh negara, maka akan semakin efisien. Selain itu, dengan dengan adanya mobil listrik atau motor listrik, dari segi polusi, bisa menekan pengeluaran dari sisi bahan bakar," kata Tulus.

Karena itu, pihaknya kembali menekankan, bagi masyarakat konsumen, mengubah pola hidup menjadi lebih banyak menggunakan listrik dibanding energi lainnya seperti minyak dan gas (migas yang berasal dari fosil), akan tergantung pada harga yang ditawarkan. 

Menurut Tulus, “Kalau harga jual tenaga listrik yang ditawarkan lebih murah, bagi masyarakat bisa saja menjadi alternatif pilihan. Tetapi sebaliknya kalau penawaran harganya mahal, akan sulit bagi masyarakat beralih pada listrik"

Exeecutive Vice President Corporate Communication and CSR PT PLN (Persero) I Made Suprateka mengemukakan, “Pada akhirnya kita memang harus sepakat untuk mempertajam berbagai sumber alam yang dapat memberi kontribusi penguatan ekonomi Indonesia, sekaligus berarti meminimalisir berbagai hal, terutama pada pos-pos pengeluaran belanja negara, yang memiliki fungsi substistusi yang bersumber dari dalam negeri.”

“Dengan demikian maka kita dapat melakukan bauran energi yang paling ekonomis, untuk menghasilkan sumber listrik yang berkelanjutan, baik dalam hal kapasitas, ketersediaan, dan juga harganya,” tambahnya.

Sedangkan menurut pemerhati ekonomi makro dari Universitas Indonesia, Faisal Basri seperti dikutip dari faisalbasri.com, pada tulisannya perihal cadangan migas, saat ini cadangan migas Indonesia tinggal tersisa 3,2 miliar barrel, sedangkan pada 1980 masih mencapai 11,6 miliar barrel. 

“Akibat dahaga mengkonsumsi minyak bumi, saat ini status Indonesia sebagai netto eksportir minyak bumi, sudah berbalik menjadi negara netto importir minyak bumi. Karena itu minyak yang harganya relatif lebih mahal masih dibeli, sedangkan gas yang relatif harganya murah, sebagian besar juga diekspor," ujar dia. 

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA