Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Menengok Kesiapan Terminal Gas Terapung Hadapi Ancaman

Jumat 15 Mar 2019 08:34 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolanda

PT Nusantara Regas bersama PT Pertamina Trans Kontinental dan aparat gabungan menggelar simulasi pengamanan kapal atau Exercise International Ships and Port Facility Securities (ISPS) Code di area Pulau Ayer, Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (14/3).

PT Nusantara Regas bersama PT Pertamina Trans Kontinental dan aparat gabungan menggelar simulasi pengamanan kapal atau Exercise International Ships and Port Facility Securities (ISPS) Code di area Pulau Ayer, Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (14/3).

Foto: Republika/Dedy D Nasution
FSRU Jawa Barat memasok gas hingga 500 juta kaki kubik per hari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak empat orang bersenjata laras panjang tiba-tiba mendekati perairan terminal khusus (Tersus) Floating Storage and Regasification Terminal (FSRT) LNG Nusantara Regas Satu di Teluk Jakarta, Kamis (14/3) siang. Keempat orang tak dikenal itu menggunakan dua rubber boat dan berputar-putar di area terlarang. Diduga kuat, mereka mencoba untuk melakukan sabotase terhadap fasilitas Floating Storage Regasification Unit (RFSU) yang merupakan terminal gas terapung untuk menampung LNG dan mengubah LNG menjadi gas.

Di tempat yang sama, sebanyak tiga unit tug boat, yakni TB Semar 81, TB Semar 82, dan TB Semar 83 tengah lego jangkar untuk memantau keamanan sekitar. Demi menjaga keamanan, dua rubber boat mencurigakan itu alhasil dilaporkan oleh Perwira Jaga FSRU Jawa Barat kepada Deputi Port Facility Security Officer (PFSO) di kantor Nusantara Regas. Selanjutnya, Deputi PFSO melapor kepada Incident Comander (IC) Nusantara Regas dan Port Security Officer (PSO) Kepulauan Seribu.

Baca Juga

PSO Kepulauan Seribu kemudian melaporkan insiden itu kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) sebagai koordinator keamanan di wilayah setempat. Melihat bahaya mengancam FSRU, KSOP meningkatkan status keamanan dari security level 1 menjadi security level 3.

Nahas, sebelum aparat gabungan dari Satpol Air, Satrol, dan Patla KSOP tiba di lokasi, telah terjadi insiden penembakan. Pelaku melemparkan bom molotov dan menembak TB Semar 81. Serangan itu menyebabkan satu anak buah kapal TB Semar 81 tertembak dan jatuh ke laut hanyut terbawa arus. Sementara, terjadi kebakaran di atas kapal karena diserang dengan bom.

Sementara situasi semakin darurat, dua rubber boat itu terus berputar dan melakukan serangan. TB Semar 82 dan 83 tetap berusaha menghalau pelaku sembari menyemprotkan air ke TB Semar 81 agar kebakaran tak meluas. Sebab, pemadaman oleh ABK TB Semar 81 nyatanya tidak berhasil.

Ketiga kapal itu pun saling berjejer di tengah laut, menyelematkan satu sama lain agar FSRU Jawa Barat tidak tersentuh kelompok bersenjata itu.  

Tak lama kemudian, aparat gabungan tiba dan mengejar pelaku. Namun, dua rubber boat yang dikendarai pelaku langsung kabur ke perairan yang jauh dari lokasi. Tak tinggal diam, pasukan mengejar dua rubber boat dan akhirnya menangkap pelaku sebelum melakukan sabotase.

Sementara itu, kapal Basarnas tiba untuk melakukan pencarian dan penyelamatan satu korban yang sempat hanyut. Beruntung, anak buah kapal itu hanya terkena luka tembak pada lengan dan berhasil diselamatkan.

Dari hasil interogasi sementara di Polres Kepulauan Seribu, tersangka melakukan ancaman keamanan dan itu murni perbuatan kriminal. Bukan suatu tindakan yang bermotifkan politik. Setelah situasi mulai kondusif, status keamanan perlahan diturunkan dari security level 3 ke 2 dan akhirnya kembali ke security level 1.

Adegan-adegan itu merupakan simulasi pengamanan FSRT LNG Nusantara Regas Satu sebagai salah satu upaya melatih diri dalam situasi darurat. 

FSRU Jawa Barat merupakan satu dari dua FSRU yang saat ini ada di Indonesia. FSRU Jawa Barat mampu memasok gas hingga 500 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk tiga pembangkit listrik di Jakarta. Yakni PJB Muara Kawang, PJB Muara Tawar, dan IP Tanjung Priok. 

photo

PT Nusantara Regas bersama PT Pertamina Trans Kontinental dan aparat gabungan menggelar simulasi pengamanan kapal atau Exercise International Ships and Port Facility Securities (ISPS) Code di area Pulau Ayer, Kepulauan Seribu, Jakarta, Kamis (14/3).

Sedikit masalah terdapat pada FSRU Jawa Barat, maka pasokan listrik di ibu kota akan terganggu. Direktur Nusantara Regas, Mochamad Taufik Afianto, menjelaskan, simulasi pengamanan yang digelar menggunakan standar internasional atau International Ships and Port Facility Securities (ISPS) Code. Ia menegaskan, operasional FSRU Jawa Barat dan keamanannya menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

“Kami komitmen bahwa kesiaagaan kami untuk menjaga semua aset ini agar bisa beroperasi secara optimal demi menjaga keandalan pasokan energi listrik di Jakarta,” kata Taufik di Pulau Ayer, Kepulauan Seribu, kemarin.

Menjalankan ISPS Code merupakan mandat dari Amandemen Safety of Life at Sea (SOLAS) tahun 1974. ISPS Code juga telah resmi diberlakukan sejak 1 Juli 2004. Direktur Operasi dan Komersial Nusantara Regas, Bara Frontasia, mengatakan, simulasi ISPS Code kali ini merupakan yang kedua kalinya.

Pertama kali digelar pada tahun 2016, atau tiga tahun setelah Nusantara Regas dinyatakan patuh ISPS Code dan mendapatkan Statement of Compliance of a Port Facility dari pemerintah. Pada simulasi pertama itu, pihaknya hanya fokus pada pengamanan upaya sabotase.

Namun, pada simulai kedua ini, ia menggabungkan insiden upaya sabotase, penembakan, dan kebakaran di kapal penjaga. “Kita lihat kondisi lingkungan kita. Apa yang akan terjadi. Masalah keamanan ini sangat banyak, jadi kita harus membiasakan diri dalam keadaan yang cepat,” ujar dia.

Kepala KSOP Kepulauan Seribu, Kapten Herbert Marpaung, mengatakan, ISPS Code berguna untuk mengkoordinasikan banyak pihak dalam suatu keadaan yang terdesak dan darurat. Ia mengaku, tidak gampang melakukan langkah yang yang terstruktur ketika terdapat ancaman serius. Terlebih, yang mengarah kepada FSRU Jawa Barat.

“Banyak pihak yang dikoordinasikan. Berapa personelnya, armada, siapa melakukan apa dalam situasi emergensi. Pada dasarnya, kita semua sudah siap,” katanya.

Lebih lanjut, Herbert menilai, tingkat keamanan sangat berkaitan erat dengan bisnis. Keamanan, kata dia, bukan hanya soal fasilitas, tapi tentang operasional bisnis dan keselamatan semua orang. Oleh karena itu, semua pihak yang terlibat wajib bekerja sama untuk menjaga aset FSRU Jawa Barat.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA