Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

Monday, 17 Sya'ban 1440 / 22 April 2019

PDIB Minta Presiden Terpilih Kelak Sentuh Akar Masalah BPJS

Kamis 21 Mar 2019 00:50 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Warga mendaftar menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kantor Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Selatan. BPJS Kesehatan masih didera masalah defisit keuangan.

Warga mendaftar menjadi peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan di Kantor Cabang BPJS Kesehatan Jakarta Selatan. BPJS Kesehatan masih didera masalah defisit keuangan.

Foto: Muhammad Adimaja/Antara
PDIB mengharapkan presiden terpilih kelak menyelesaikan akar masalah defisit BPJS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perkumpulan Dokter Indonesia Bersatu (PDIB) mengharapkan presiden dan wakil presiden Indonesia yang menang dalam pemilihan umum (pemilu) 2019 dapat menyelesaikan masalah defisit BPJS Kesehatan. PDIB menyerukan agar penanganan defisit BPJS Kesehatan menyentuh sampai ke akar masalah.

"Masalah BPJS yang menyebabkan defisit apa sih, ini yang harus diselesaikan sampai ke akar," kata Ketua Umum PDIB James Allan Rarung saat dihubungi Antara, Jakarta, Rabu.

Baca Juga

James mengungkapkan setidaknya ada tiga penyebab defisit pada BPJS Kesehatan. Menurutnya, iuran tidak sesuai dengan hitungan keekonomian, ada ketidaktaatan membayar iuran, dan belanja kesehatan untuk penyakit katastropik, yakni penyakit yang memerlukan biaya tinggi, memiliki komplikasi, dan membahayakan jiwa.

Penyakit katastropik merupakan penyakit degeneratif yang menahun dan terjadi dalam jangka waktu bertahun-tahun, contohnya kanker dan penyakit jantung yang memakan biaya pengobatan hingga ratusan juta rupiah. Dari penyakit katastropik yang didata, menurut dia, ada 10 penyakit terbesar di antaranya yang telah menyedot banyak anggaran dari anggaran BPJS Kesehatan, salah satunya ialah kanker.

Untuk itu, James mengatakan langkah yang diambil bukan semata mengobati tapi lebih kepada pencegahan agar tidak terjadi penyakit itu dan untuk mengurangi kerugian belanja negara yang lebih besar untuk pembiayaan pengobatan jangka panjang. Upaya pencegahan bertujuan untuk membuat masyarakat paham dan sadar akan pola hidup sehat, termasuk pemenuhan gizi dan sanitasi yang baik bagi warga.

"Yang paling penting permasalahan kita adalah upaya preventif dan promotif terutama peran serta seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama membantu program atau pola hidup sehat," tuturnya.

Dia mengatakan presiden dan wakil presiden terpilih harus memantapkan dan meningkatkan program pencegahan penyakit untuk mengurangi belanja negara sebagai upaya menciptakan manusia Indonesia yang sehat dan produktif.

"Saya tahu mereka bukan pakar kesehatan, wajarlah, tapi kan seharusnya mereka harus bisa memberikan gambaran secara umum yang lebih ke aspek pencegahan karena kan harus jangka panjang," ujarnya.

Pada 17 Maret 2019, debat putaran ketiga telah diadakan antara cawapres nomor urut 1 Ma'ruf Amin dan cawapres nomor urut 2 Sandiaga Salahuddin Uno. Debat itu mengangkat tema "Pendidikan, Ketenagakerjaan, Kesehatan, Sosial dan Budaya". Pemilihan presiden dan wakil presiden 2019 diikuti dua pasangan calon, yaitu nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA