Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Singgung Pelaksanaan UN, JK: Katanya Mempersulit Siswa

Sabtu 06 Apr 2019 18:24 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Bayu Hermawan

Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato sesaat sebelum membuka Festival Kebangsaan II di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome, Malang, Jawa Timur, Sabtu (6/4/2019).

Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato sesaat sebelum membuka Festival Kebangsaan II di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dome, Malang, Jawa Timur, Sabtu (6/4/2019).

Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto
Menurut JK, kemajuan bangsa memang ditentukan dengan pendidikan.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG--Wakil Presiden Jusuf Kalla menyinggung pelaksanaan ujian nasional (UN) yang dinilai mempersulit para siswa. Menurut JK, kemajuan bangsa memang ditentukan dengan pendidikan.

Baca Juga

Karenanya ia menilai, pendidikan semestinya  diperoleh dengan melalui proses. "Karena itu kami pernah mempersulit, sampai sekarang saya mempersulit siswa siswa. Katanya mempersulit karena melakukan UN lagi, sehingga banyak yang protes," ujar JK saat memberi sambutan di Pembukaan Festival Kebangsaan II 2019 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (6/4).

JK melanjutkan, meski UN diprotes, Pemerintah dan juga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tetap mempertahankan pelaksaan UN sebagai standar evaluasi pendidikan nasional.

"Tapi kita tetap bertahan, bahwa sesuatu prestasi tidak mungkin dicapai dengan mudah, tanpa kesulitan tidak mungkin kita berhasil dengan baik. itulah kenapa semua hal hal tersebut kita lakukan," ujar JK.

JK menegaskan, apalagi Indonesia tengah mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain. Menurutnya, untuk mencapai kemajuan tersebut, Indonesia harus meningkatkan kualitas pendidikan dan penguasaan teknologi serta ilmu pengetahuan.

Karena itu, di hadapan sivitas akademika UMM dan ratusan mahasiswa UMM, JK mengingatkan pentingnya penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebab, JK menilai, tidak cukup bagi Indonesia untuk maju jika hanya mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang selama ini menjaga kebanggaan bangsa Indonesia.

"Kita bangga, sebagai penghasil minyak dan kita mengekspor minyak tapi sekarang dalam waktu 20 tahun, minyak kita tinggal setengah, kita sudah mengimpor minyak dan bukan mengekspor lagi, bisa habis pada waktunya," ujar JK.

Ia mencontohkan sumber daya alam seperti batubara yang dikelola terus menerus, sawit yang juga terus menurun karena tindakan diskriminatif Uni Eropa. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand dan negara maju lainnya, harus dikedepankan teknologi dan pengetahuan.

"Semua SDA bisa habis tapi ilmu pengetahuan tidak akan habis dalam memajukan bangsa itu," ujarnya.

Ia mencontohkan negara-negara maju seperti Jepang dan Korea yang tidak memiliki sumber daya alam melimpah, namun maju karena teknologi dan pengetahuan.

"Korea maju, Jepang maju karena pengetahuan, meski negerinya tidak punya SDA yang baik. Karena itulah sumber ilmu pengetahuan, bukan di ladang, di kebun atau di tanah. Tapi di universitas," ujar JK.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA