Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Boeing Tahu Persoalan dalam 737 MAX Sebelum Lion Air Jatuh

Selasa 07 May 2019 00:30 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Friska Yolanda

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Pekerja merakit Boeing 737 MAX 8 di fasilitas perakitan pesawat di Washington, Amerika Serikat.

Foto: AP Photo/Ted S. Warren
Boeing telah mengetahui sistem peringatan tidak dapat dioperasikan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Boeing sudah mengetahui masalah yang dialami oleh pesawat pabrikannya seri 737 MAX, jauh-jauh hari sebelum jatuhnya Lion Air pada Oktober 2018 yang menewaskan semua penumpang beserta awak. Meski sudah mengetahui masalahnya, Boeing tidak melakukan upaya pencegahan maupun perbaikan. 

Baca Juga

Boeing sebelumnya mengakui bahwa sistem peringatan yang seharusnya menjadi fitur standar tidak dapat dioperasikan. Dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada Ahad (5/5) lalu, Boeing menyatakan masalah perangkat lunak tidak berdampak buruk terhadap keselamatan atau operasi pesawat. Namun, belum diketahui apakah kurangnya fitur tersebut berperan penuh dalam jatuhnya pesawat Lion Air dan Ethiopian Airlines. 

Dalam kedua bencana tersebut, investigasi awal menunjukkan data yang salah dari sensor angle of attack (AOA) yang tidak berfungsi sehingga memicu tidak berfungsinya Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Hal ini membuat pilot kehilangan kendali. Boeing dan Federal Aviation Administration (FAA) menyatakan, tidak mengetahui kerusakan tersebut hingga jatuhnya pesawat Lion Air. 

Boeing menyatakan, peringatan pada sistem AOA hanya bekerja pada pesawat jika maskapai telah membeli fitur tambahan opsional yang dikenal sebagai indikator AOA. Indikator AOA membuat pilot tahu jika salah satu sensor AOA tidak berfungsi, sedangkan peringatan yang tidak setuju menunjukkan jika sensor saling bertentangan.

Boeing berpendapat bahwa fungsi waspada itu tidak diperlukan untuk pengoperasian pesawat yang aman. Tetapi mantan insinyur Boeing dan analis penerbangan yang diwawancarai oleh CNN mengkritik desain perangkat lunak asli Boeing, karena mengandalkan data dari sensor AOA tunggal. Hal ini mengklaim bahwa perangkat tersebut rentan terhadap cacat.

CNN sebelumnya melaporkan, Boeing juga tidak melakukan uji terbang, dan mengidentifikasi apa yang akan terjadi pada sistem MCAS jika sensor AOA tunggal gagal beroperasi. Pada 2017 setelah pengiriman 737 MAX dimulai, insinyur Boeing mengidentifikasi bahwa perangkat lunak sistem tampilan 737 MAX tidak memenuhi persyaratan peringatan AOA Disagree.

Namun, setelah ditinjau, para insinyur Boeing memutuskan untuk tidak segera memperbaiki masalah. Mereka menyimpulkan bahwa, fungsi yang ada dapat diterima sampai peringatan dan indikator dapat dihapus dalam pembaruan sistem perangkat lunak berikutnya.

Boeing juga mengadakan Safety Review Board (SRB) untuk mempertimbangkan apakah tidak adanya peringatan AOA Disagree dari 737 MAX tertentu menampilkan masalah keselamatan. Ketika SRB mengkonfirmasi kesimpulan Boeing, maka Boeing menganalisisnya dengan FAA. Boeing mengatakan, pihaknya mengeluarkan pembaruan perangkat lunak sistem tampilan untuk mengimplementasikan peringatan AOA Disagree sebagai fitur standar dan mandiri sebelum MAX kembali ke terbang.

"Ketika MAX kembali ke layanan, semua pesawat produksi MAX akan memiliki peringatan AOA Disagree yang diaktifkan dan dapat dioperasikan serta sudut opsional indikator serangan," kata Boeing dalam pernyataannya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA