Wednesday, 16 Syawwal 1440 / 19 June 2019

Wednesday, 16 Syawwal 1440 / 19 June 2019

Milenial Melangkah Maju Optimis Kawal Pembangunan

Ahad 19 May 2019 20:25 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Agus Yulianto

Generasi milenial menggelar acara pidato kebangkitan di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta. Tema acara mengangkat Milenial Melangkah Maju. Peserta merupakan undangan lima puluh  organisasi dari berbagai latar belakang

Generasi milenial menggelar acara pidato kebangkitan di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta. Tema acara mengangkat Milenial Melangkah Maju. Peserta merupakan undangan lima puluh organisasi dari berbagai latar belakang

Foto: Republika/Ali Yusuf
Generasi milenial yang tumbuh setelah era Reformasi adalah generasi terbaik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memperingati 111 tahun Hari Kebangkitan Nasional, ratusan orang generasi milenial menggelar acara pidato kebangkitan di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta. Tema yang digunakan dalam acara ini adalah "Milenial Melangkah Maju". 

Kegiatan ini mengundangan lima puluh organisasi dari berbagai latar belakang sebagai peserta. Di antaranya aktivis pemuda dan ormas Islam, pengusaha, pegiat start-up, profesional dari berbagai bidang, serta politisi muda dan relawan, baik pendukung pasangan 01 dan 02 semua hadir. Selain masyarakat umum acara ini mengundang mantan Ketua DPR Akbar Tanjung, Rektor IPB Arif Satria dan pengusaha nasional Erick Thohir.

Inisiator acara Arief Rosyid menyerukan persatuan dan kolaborasi lintas kelompok. Arief meminta, sekeras apapun sebuah perhelatan demokrasi, tujuannya tidak lain untuk memperkuat simpul kebangsaan.

"Kami ingin meminjam semangat kebangsaan Boedi Oetomo. Kami ingin segera move on, melangkah maju dari pembelahan politik yang terlalu tajam. Jika belum bisa dari atas, kami mendorong persatuan dari bawah,” kata Arief yang juga co-founder Aktivis Milenial, sebelum kegiatan digelar, Ahad (19/5).

Menurut Arief, generasi milenial yang tumbuh setelah era Reformasi adalah generasi terbaik yang tumbuh dalam bangsa ini. Karena mereka mendapat kualitas pendidikan dan lingkungan politik yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya. 

"Mereka tidak mengalami represi oleh rezim otoriter, sehingga cenderung lebih optimis melihat politik," katanya.

Menurutnya, satu dari tiga penduduk Indonesia saat ini adalah generasi milenial. Artinya mereka bukan lagi minoritas, mereka mulai masuk ke berbagai sektor, baik bisnis, kegiatan sosial, dan dunia politik. 

"Mereka tidak mewarisi konflik masa lalu, lebih berani membuka ruang pengabdian baru dan mendorong perubahanm," katanya.

Pengalaman negara-negara seperti Korea Selatan, Cina, Jepang dan Singapura berhasil membangun ekonominya, dengan memanfaatkan kondisi angkatan kerja yang mereka miliki. Bahkan Cina sanggup menjadi negara adidaya karena berhasil memanfaatkan 30 persen pendapatan per kapita mereka untuk pembangunan SDM.

Saat ini lebih dari separuh generasi milenial tinggal di perkotaan. Mereka memiliki akses luas terhadap fasilitas pendidikan, kesehatan, teknologi informasi, dan internet. Mereka memiliki kepercayaan diri untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Terutama dalam mengembangkan potensi ekonomi digital dan industri kreatif.

"Suksesnya pelaksanaan Asian Games ke-18 di Jakarta tahun 2018 lalu menunjukkan bahwa secara sosiologis, generasi ini telah siap mengambil peran strategis dalam menentukan perjalanan bangsa," katanya.

Menurut Arief, pemerintah selama ini telah banyak berbenah. Terutama dalam hal memperlakukan milenial sebagai aset dan kekuatan, bukan beban masalah. Paradigma generasi milenial sebagai beban masalah akan membawa pada kebijakan problem solving yang bersifat jangka pendek. Sebaliknya, sebagai aset dan kekuatan masa depan, akan membawa pada model kebijakan yang positif dan bersifat jangka panjang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA