Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

Selasa, 23 Safar 1441 / 22 Oktober 2019

LIPI Siapkan Peta Hotspot Zoonosis Indonesia

Rabu 22 Mei 2019 06:29 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Primata monyet bisa menularkan penyakit cacar monyet atau monkeypox ke manusia.

Primata monyet bisa menularkan penyakit cacar monyet atau monkeypox ke manusia.

Foto: Public Domain Pictures
Peta hotspot infeksi zoonosis penting untuk amankan keanekaragaman hayati Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama kementerian terkait menyiapkan peta hotspot zoonosis di Indonesia. Peta tersebut berguna untuk mengamankan keanekaragaman hayati sebagai potensi pangan dan sumber obat untuk kesehatan di masa depan.

"Dalam lima tahun ke depan LIPI bekerja sama dengan kementerian terkait akan melakukan karakterisasi mikroba zoonosis dari prevalensi, distribusi, endemisitas, dan etiologi sehingga dapat tersedia data dan peta hotspotinfeksi zoonosis di Indonesia," kata Kepala Bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi LIPI Cahyo Rahmadi di Jakarta, Selasa.

Indonesia sebagai salah satu negara mega biodiversity di dunia dikaruniai keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, salah satunya adalah keberadaan satwa liar. Menurut Cahyo, keragaman satwa liar ini sudah selayaknya dilestarikan.

Baca Juga

Di sisi lain, Cahyo melihat ada tantangan tersendiri mengingat potensi penyebaran penyakit oleh satwa liar atau dikenal dengan istilah "zoonosis". Ia mengatakan fauna liar yang secara alami dapat menyeberang lintas negara maupun dibawa dan dimanfaatkan oleh manusia untuk tujuan tertentu perlu menjadi fokus penelitian. Terlebih dengan baru-baru ini ditemukannya kasus cacar monyet atau monkeypox.

Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang. Namun demikian, menurut dia, kegiatan memasukkan jenis-jenis satwa dari luar Indonesia untuk kepentingan apapun, harus selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Cahyo mengatakan, salah satu penyebab terancamnya satu juta spesies dalam beberapa dekade ke depan seperti yang disebutkan dalam laporan terbaru Platform Sains-Kebijakan Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (the Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services/IPBES) salah satunya akibat ancaman invasif asing.

"Ini yang jadi perhatian kami," ujar Cahyo.

Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati mengatakan, sesuai dengan tema peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia pada 22 Mei 2019, yakni Our Biodiversity, Our Food, Our Health maka perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia harus diawali dengan peningkatan pemahaman sebagai fondasi bagi makanan dan kesehatan manusia.

Karenanya, menurut Enny, perlu upaya untuk terus memberikan informasi kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia pada masyarakat, mulai dari kekayaan fauna sampai mikroorganisme.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA