Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Kamis, 18 Safar 1441 / 17 Oktober 2019

Menhan Gelar Coffee Morning dengan 34 Atase Pertahanan

Selasa 25 Jun 2019 19:01 WIB

Rep: Erik Purnama Putra/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri acara coffee morning II dengan 34 Athan Residen dan Nonresiden beserta 20 Spouse Pertahanan negara sahabat, di Hotel Anvaya, Kuta, Badung, Bali, Selasa (25/6).

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri acara coffee morning II dengan 34 Athan Residen dan Nonresiden beserta 20 Spouse Pertahanan negara sahabat, di Hotel Anvaya, Kuta, Badung, Bali, Selasa (25/6).

Foto: ryamizard ryacudu
Kemenhan berkomitmen meningkatkan kemampuan industri pertahanan

REPUBLIKA.CO.ID, BADUNG -- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menghadiri acara coffee morning II dengan 34 Atase Pertahanan Residen dan Nonresiden beserta 20 Spouse Pertahanan negara sahabat, di Hotel Anvaya, Kuta, Badung, Bali, Selasa (25/6). Ryamizard menyampaikan, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) berkomitmen untuk meningkatkan kemampuan industri strategis nasional menuju kemandirian industri pertahanan.

Sehingga ke depan Indonesia mampu untuk memenuhi kebutuhan Alutsistanya sendiri, bahkan memiliki kemampuan untuk menjual alutsista kepada negara-negara sahabat. Ryamizard juga menyinggung, berbagai fenomena yang terjadi di dunia internasional yang dapat mempengaruhi pengambilan kebijakan suatu negara.

Dinamika perkembangan situasi luar negeri yang mempengaruhi kebijakan pertahanan Indonesia, antara lain pengembangan senjata strategis, isu radikalisme, ekstremisme, dan terorisme, perubahan iklim, isu migran, penyebaran dan penyalahgunaan narkoba, serta ketahanan pangan, air dan energi. “Selain itu, isu terorisme juga masih menjadi perhatian utama bagi negara-negara Asia Tenggara, khususnya pascakekalahan ISIS di Irak dan Suriah karena kembalinya ribuan militan asing ke negara asalnya, termasuk di Asia Tenggara,” ujar Ryamizard dalam siaran pers.

Menurut Ryamizard, kembalinya para militan asing tersebut, termasuk ke Indonesia menjadi ancaman utama di berbagai kawasan. Peristiwa Marawi di Filipina Selatan pada 2017, menjadi tonggak awal bagi pembentukan kerja sama yang lebih erat dalam menghadapi ancaman terorisme di Asia Tenggara. 

Sementara itu, terkait perkembangan situasi dalam negeri saat ini di bidang politik Indonesia telah menyelenggarakan rangkaian kegiatan Pemilu 2019 dengan aman dan lancar. “Namun, proses Pemilu 2019 belum sepenuhnya selesai dengan adanya proses hukum di Mahkamah Konstitusi mengenai sengketa hasil Pemilu 2019,” ujarnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA